Jalan Trans Papua Diproyeksikan Beres Sebelum 2024

Jhon Wempi Wetipo (Gamel Cepos)

JAYAPURA – Wakil Menteri PUPR, Jhon Wempi Wetipo menyampaikan bahwa saat ini pemerintah pusat melalui APBN masih melanjutkan pekerjaan pembukaan akses jalan Trans Papua, Jayapura–Wamena yang sudah dibuka sejak beberapa tahun lalu. Akses darat ini jika sudah dibuka maka diyakini akan menekan angka kemahalan  di daerah pegunungan khususnya Jayawijaya. Wempi Wetipo mengatakan untuk jalan tanah masih ada 70 Km yang belum diaspal. Dari 70 Km ada 25 Km yang sedang berjalan sehingga yang tersisa hanya 45 Km.

“Namun komitmen kami sebelum presiden berakhir di tahun 2024 pekerjaan ini sudah harus dituntaskan dan harapan  kami mulai dari titik nol di Jayapura hingga di Km 584 kami ingin semua diaspal mulus,” kata Jhon Wempi Wetipo kepada Cenderawasih Pos di Kotaraja, pekan lalu.

Namun mantan Bupati Jayawijaya itu meminta dukungan  kepada masyarakat untuk membuka pemahaman bahwa saat ini negara membangun jalan bukan untuk siapa-siapa. Ini untuk masyarakat sehingga yang sudah dibangun jangan dibongkar-bongkar lagi atau dirusak lagi. Kalaupun ada yang mengganjal ia meminta semuanya duduk dan membicarakan baik-baik. Jangan infrastruktur dijadikan sasaran sebab banyak masyarakat yang membutuhkan terbukanya akses jalan tersebut.

“Kalau negara serius membangun mari  didukung sebab  ini untuk kepentingan rakyat. Semua akan terdampak dan pembangunan di daerah yang selama ini tersendat akan terpecahkan. Jika  semua dibebankan  lewat pesawat pastinya sangat mahal  namun jika sudah terhubung tentunya banyak hal yang bisa dibuat,” imbuhnya. Selain tersisa 45 Km yang belum diaspal kata  mantan Bupati Jayawijaya ini ada akses lain yang juga dikerjakan  namun bukan di Jl Trans Irian semisal jalan Yeti – Mamberamo yang dikerjakan BUMN lainnya.

“Dengan multi years kami harap di tahun 2023 semua bisa dituntaskan dan untuk Papua saja ada 8 segmen yang harus dituntaskan jadi untuk akses provinsi ke kabupaten semua terhubung dan disitulah konsep nawa cita bisa dibilang berjalan,” bebernya. Namun selain akses di Papua menurutnya ada juga yang di Papua Barat. (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *