Atasi Sampah, Perlu Siapkan Insinerator

George Saa (Robert Mboik Cepos)

SENTANI– Tokoh muda yang juga merupakan pemerhati pendidikan di Papua,  George Saa menanggapi soal pemberitaan di Cenderawasih Pos beberapa waktu lalu mengenai penanganan sampah di Kota Sentani Kabupaten Jayapura, yang tidak maksimal.  Dia mengatakan, mengatasi persoalan itu sebenarnya tidak sulit, pemerintah diharapkan bisa menyiapkan insinerator.

“Untuk referensi, pembangunan insinerator ini sangatlah tidak sulit. Desain teknis pembakaran sampah insinerator ini dapat diaplikasikan untuk pembakaran sampah kering. Untuk sampah plastik, cukup disiapkan mesin press yang memiliki kapasitas sedang untuk mengelola sampah plastik. Bahkan di  Papua, sampah plastik ini bisa didaur ulang atau bisa dijual ke luar Papua,” kata George Saa kepada media ini, Minggu (7/11).

Selain itu, persoalan sampah ini memang butuh kepedulian dan kedisiplinan warga. Meski begitu, masyarakat yang membuang sampah sembarangan ini perlu juga treatment khusus. Harus ada pendidikan publik tentang bahaya dari pembuangan sampah di sembarang tempat. Pemerintah lokal khususnya Kabupaten Jayapura bisa juga menyiapkan tong sampah portable yang dipisahkan menjadi 3 jenis. Khusus untuk limbah makanan atau limbah basah, limbah kering dan limbah B3.

Tong sampah ini dapat diberikan nomor/label berdasarkan nomor register pelanggan/masyarakat dengan jadwal pemungutan yang diatur berdasarkan kategori sampah.

“Bila setiap rumah masyarakat disedikan tong sampah, ini tentu akan memberikan kemudahan bagi masyarakat, ” ungkapnya.

Kemudian dari aspek pajak/retribusi, pemerintah lokal dapat mentertibkan hal ini. Dan sangat disayangkan kalau semua masih harus terdampak dengan tidak dispilinnya masyarakat dalam membuang sampah.

Dirinya melihat di mana-mana banyak warga yang mengorek-ngorek sampah untuk mencari pakan ternak babi. Bila saja satu kabupaten ini difasilitasi dengan tong sampah khusus limbah basah, misalnya sisa makanan, dan juga tong khusus misalnya kalau disediakan, khusus untuk pakan hewan (babi), mungkin pemandangan yang selama ini terlihat itu tidak ada lagi. “Ini bagi saya suatu tindakan manusiawi,”ungkapnya.

Menurutnya, sampah yang tidak diurus dengan profesional di wilayah manapun menunjukkan watak dan karakter masyarakat di wilayah tersebut. Namun kalau secara serius mengurusi sampah, dampaknya akan sangat luas. Masyarakat akan lebih menghargai proses segregasi sampah yang sangat penting nilainya.(roy/tho)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *