Waspada La Nina Hingga Februari 2022

Warga melintasi jalan saat hujan di kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta, Senin (1/11/2021). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem berupa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat atau petir, dan angin kencang untuk berbagai wilayah di Indonesia hingga 6 November 2021.FOTO:MIFTAHULHAYAT/JAWA POS

*Bantuan Disalurkan ke Sejumlah Lokasi Banjir

JAKARTA-Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menghimbau semua pihak untuk waspada atas meningkatnya ancaman bencana hidrometeorologi. Sejumlah wilayah pun dilaporkan telah mengalami bencana banjir dan longsor akibat kenaikan intensitas curah hujan.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengungkapkan, ancaman bencana ini meningkat akibat fenomena alam La Nina yang datang bersamaan dengan masa puncak musim hujan di Indonesia. La Nina sendiri diprediksi bakal terjadi hingga Januari-Februari 2022.

”Fenomena La Nina sendiri memicu peningkatan frekuensi dan intensitas curah hujan hingga 70 persen,” ujarnya, kemarin (7/11).

Ada berbagai daerah di Indonesia yang dilaporkan mengalami banjir. Misalnya saja Aceh Tenggara, Kabupaten Sintang, Kabupaten Karawang, Kabupaten Bandung Barat, dan sebagian Jakarta. Saat berita ini ditulis, di beberapa daerah sudah surut dan sebagian lagi masih tergenang.

Tingginya intensitas hujan yang terjadi sejak 11.00 hingga 13.30 WIB pada Sabtu lalu (6/11) menyebabkan banjir bandang di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Bencana banjir tersebut terjadi Desa Bojonghaleuang di Kecamatan Saguling. Kepala Bidang Darurat dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat Asep Sulaiman menyatakan lumpur dan ranting-ranting pohon dari tebing ikut terbawa arus hingga menutup sungai yang berada di permukiman. Menurutnya banjir terjadi hanya sebentar namun sempat menggenangi rumah warga.

Masih di Jawa Barat, banjir juga sempat melanda satu desa di Kabupaten Karawang pada Selasa lalu (2/11). Kemarin banjir tersebut telah surut. Banjir ini dipicu oleh hujan intensitas tinggi sehingga debit air Sungai Cilamaya meluap Selasa sore. Kabupaten Karawang merupakan wilayah dengan potensi bahaya banjir berkategori sedang hingga tinggi. Berdasarkan analisis inaRISK, sebanyak 30 kecamatan berada pada kategori tersebut.

Di Jakarta sendiri, sejumlah wilayah juga dilaporkan terendam banjir akibat hujan yang terjadi sejak Minggu siang. Setidaknya, ada 21 wilayah rukun tetangga (RT) yang terendam. Jumlah tersebut tersebar di Jakarta Utara sebanyak 13 RT dan Jakarta Selatan 8 RT. Ketinggian banjir mencapai 40 cm-1,5 meter.

Diakuinya, pihaknya terus mendapatkan informasi mengenai kondisi cuaca dari BMKH setiap harinya. Sebagai upaya mencegah jatuhnya korban, pihaknya pun selalu memberikan peringatan dini pada masyarakat. Namun, perlu diketahui kapan saatnya mengevakuasi masyarakat pada kondisi hujan deras. Salah satunya, ketika hujan sangat deras terjadi lebih dari satu jam dan jarak pandang kurang dari 30 meter.

”Kalau ini sudah berjalan satu jam, maka masyarakat yang ada di kelerengan, di daerah rendah sepanjang bantaran sungai untuk dievakuasi sementara hingga situasi dirasa aman kembali,” paparnya.

Pada bagian lain, BNPB telah melakukan survey udara di sekitar Kota Batu, Jawa Timur. Dalam Survei ini ditemukan titik-titik longsor di sepanjang tebing alur lembah sungai di wilayah hulu. Ini diduga menjadi salah satu biang banjir bandang.

Adanya enam alur lembah sungai yang setiap sisinya tidak dilindungi oleh vegetasi yang rapat dan memiliki akar yang kuat. Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, kondisi tersebut akan memicu terjadinya longsoran yang dapat membentuk bendungan alam dan menutup alur air.

”Hasil survey lain di bagian hilir, menunjukkan di sepanjang bantaran sungai terdapat perkebunan semusim yang melebar hingga di tebing sungai,” jelas Muhari. Dari pengamatan melalui udara tersebut tampak jelas bahwa perkebunan itu mengalami kerusakan karena tergerus air hujan dengan intensitas tinggi dan jenis vegetasi yang ditanam tidak memiliki akar yang kuat untuk mengikat tanah.

Mengingat masih banyak terlihat pohon-pohon tumbang di lokasi bekas longsoran di hulu, diperlukan pembersihan.”Sebab hal itu menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan guna melihat di mana saja titik-titik potensi sumbatan atau bendung alam di wilayah hulu,” ucapnya.

BNPB juga merekomendasikan agar wilayah lereng tebing atau kawasan kebun semusim lainnya ditanami dengan jenis vegetasi yang keras dan berakar kuat. Sehingga dapat mengikat tanah dan mencegah terjadinya longsoran. ”Pemerintah Kota Batu bisa mengacu kepada aturan penggunaan lahan sepanjang sempadan sungai,” katanya.

Pemerintah pun telah bergerak cepat membantu korban bencana ini. Menteri Sosial (mensos) Tri Rismaharini telah mengecek lokasi bencana dan memastikan bantuan logistik diterima para korban banjir bandang.

Mensos juga meninjau dapur umum di Kantor Kelurahan Bulukerto guna memastikan permakanan para korban terpenuhi. ”Di sini Tagana membuka dapur umum dengan total nasi bungkus yang telah tersalur 600 bungkus,” ujarnya. Tagana juga menyalurkan bantuan logistik yang berasal dari Gudang Jawa Timur Tahap l  yang berupa makanan siap saji 300 paket, kids wear 20 paket, family kit 20 paket, makanan anak 60 paket. Bantuan logistik tersebut sudah tiba malam ini di Kota Batu.

Kemudian bantuan Gudang Jawa Timur Tahap ll berupa makanan siap saji sebanyak 300 paket, makanan anak 120 paket, family kit 20 paket, kids wear 20 paket, matras 60 lembar, tenda gulung 50 lembar, kasur 50 lembar, dan selimut 50 lembar. Bantuan logistik tersebut saat ini loading di Gudang Dinsos Jatim.

Bantuan juga dimobilisasi dari Gudang Bekasi. Yakni, berupa makanan anak sebanyak 360 paket, makanan siap saji 449 paket, family kit sebanyak 160 paket, kids wear 160 paket, peralatan dapur keluarga 50 paket, tenda gulung 200 lembar, kasur sebanyak 50 unit, foodware 100 paket. ”Bantuan ini dalam proses pengiriman dari Gudang Bekasi ke lokasi bencana Kota Batu Malang,” jelasnya.

Kemensos juga menyalurkan bantuan logistik dari Balai Prof. Soeharso Surakarta dan Balai Diklat Kemensos di Yogyakarta. Bantuan pun sudah tiba di kantor balai desa.

Selain itu, Kemensos juga menyalurkan santunan sebesar Rp15 juta untuk setiap ahli waris dari korban yang meninggal dunia. Adapun, santunan juga diberikan kepada korban luka berat sebesar Rp 5 juta dan luka ringan Rp 2 juta.

Dari Batu, Risma langsung meluncur ke lokasi banjir Desa Cermen Lerek, Kecamatan Kedamean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, kemarin. Di sana, ia melihat masih banyak tenda sederhana yang ditempati warga. Ia meminta agar bisa didirikan tenda sementara dengan kapasitas besar untuk warga. Sehingga, bisa dijadikan titik evakuasi sementara. Selain itu, tena juga bisa berfungsi sebagai penampung barang milik warga. ”Supaya kalau ada bencana susulan masyarakat bisa mengakses jalur evakuasi,” ungkapnya.

Dari lokasi banjir, Mensos juga menghubungi Bupati Gresik Fandi Ahmad Yani melalui telepon agar diberikan dukungan peralatan untuk menormalisasi lokasi banjir.

Setelahnya, Mantan Wali Kota Surabaya itu bergerak ke Posko Pengungsi dan Dapur Umum Desa Gluranploso, Kecamatan Benjeng. Di sini, Mensos meninjau aktivitas dapur umum yang bisa memproduksi 1.000 porsi makanan siap santap untuk 2 kali makan. Mensos juga mengecek pasokan bantuan logistik yang dipastikan tersedia dalam jumlah yang cukup.

Untuk membantu warga, Kemensos telah menyalurkan bantuan logistik dari Gudang Logistik Dinas Sosial Provinsi Jatim berupa Makanan siap saji 260 paket, makanan anak 240 paket, family kit  20 paket, kids wear 50 paket matras 50 lembar, tenda gulung 50 lembar, Kasur 30 lembar, selimut 50 lembar. Bantuan logistik dari Gudang Balai Rehabilitasi Sosial Solo berupa makanan anak 180 paket Kids Wear 48 paket, tenda gulung 100 paket,  sarung 100 lembar.

Banjir di kawasan ini terjadi setelah hujan dengan intensitas tinggi pada Jumat (5/11) dini hari. Tingginya intensitas hujan mengakibatkan Kali Lamong meluap. Akibatnya, banjir merendam beberapa desa di Kecamatan Benjeng, Balongpanggang serta Kedamean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Desa yang terdampak meliputi Desa Cermen, Dusun Cermen (90 KK),  Dusun Medeo (127 KK), Dusun Gorekan Kidul (137 KK),  dan Dusun Gorekan Lor (55 KK).

Dalam kesempatan itu, Mensos mengingatkan semua pihak terhadap potensi bencana ke depan yang sangat mungkin masih akan terjadi. Sebab, menurut prakiraan BMKG, saat ini puncak musim hujan masih belum terjadi. ”Jadi  masyarakat harus terus waspada. Daerah dengan hutan yang banyak ditebang termasuk kawasan rawan bencana,” tegasnya. (lyn/mia/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *