Singapura Krisis Covid-19, Bangsal Pasien Umum Disulap jadi ICU

Ilustrasi kondisi ICU salah satu rumah sakit di Singapura. Singapura mengubah tempat tidur pasien umum atau non-Covid menjadi ruang ICU. (The Straits Times)

SINGAPURAPemerintah Singapura menambah jumlah tempat tidur unit perawatan intensif (ICU) untuk pasien Covid-19 menjadi 1.000. Untuk itu, Singapura mengubah tempat tidur pasien umum atau non-Covid menjadi ruang ICU.

Saat ini, Singapura memiliki 219 tempat tidur ICU. sehingga perlu menambah hampir 800 tempat tidur lagi. Rumah Sakit Tan Tock Seng (TTSH), yang telah mengirim staf dan peralatan ke Pusat Nasional untuk Penyakit Menular (NCID) adalah salah satu faskes yang meningkatkan tempat tidur ICU. Mereka terpaksa menutup sekitar 4 tempat tidur bangsal umum dan diganti dengan tempat tidur ICU tambahan.

Sementara, satu perawat akan merawat empat pasien. Di ICU, ada tiga perawat hingga empat pasien. Pasien yang membutuhkan perawatan intensif biasanya menghabiskan waktu sekitar dua minggu di ICU. Beberapa pasien bisa berada di sana selama lebih dari sebulan.

Menteri Senior Negara untuk Kesehatan, Janil Puthucheary mengatakan rumah sakit umum telah menambahkan 90 tempat tidur ICU dewasa selama pandemi. Ranjang diperuntukkan bagi pasien Covid-19 maupun pasien dengan penyakit serius lainnya.

Pada 2019, ada 298 tempat tidur ICU dengan tingkat hunian rata-rata 63 persen, atau sekitar 188 tempat tidur terisi. Saat ini, terdapat 163 tempat tidur ICU untuk pasien non-Covid-19, dengan okupansi rata-rata 80 persen atau 130 tempat tidur terisi. Itu adalah penurunan 30 persen dalam hunian tempat tidur ICU oleh pasien non-Covid-19.

Ada berbagai kemungkinan penjelasan untuk penurunan ini. Salah satunya adalah jumlah pasien yang sakit kritis saat ini lebih sedikit, sehingga kebutuhan akan perawatan ICU telah menurun. Itu akan menjadi hal yang baik.

Alasan lain yang mungkin adalah bahwa orang menunda operasi tidak mendesak yang mungkin memerlukan perawatan ICU. Beberapa pasien menunda pengobatan.

Selain mereka yang membutuhkan perawatan intensif, pasien Covid-19 juga banyak yang berada di bangsal isolasi yakni 548 tempat tidur di NCID dan Communicable Disease Center 2.

“Kami mengonversi tempat tidur ICU non-Covid-19 untuk digunakan oleh pasien Covid-19 yang membutuhkan perawatan intensif memiliki batas, karena mengalihkan sumber daya dari pasien non-Covid-19 yang juga membutuhkan perawatan” katanya.

“Jadi, setiap peningkatan kapasitas tempat tidur ICU harus didukung oleh peningkatan tenaga kerja yang harus dialihkan dari tugas ICU non-Covid-19,” jelasnya.

Tenaga medis dari angkatan bersenjata dan para profesional yang baru saja pensiun telah kembali bekerja. Bahkan penambahan tenaga ini tidak cukup untuk meringankan beban pasien Covid-19 dalam jumlah besar yang membutuhkan protokol pengendalian infeksi.(jpg)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *