Hari Ini Teater Tentang Tanah Leluhur Papua Dipentaskan di Expo

Para pemain teater tentang tanah leluhur berkumpul dalam satu event belum lama ini. Teater tentang Tanah Leluhur akan kembali dimainkan  hari ini, Senin (8/11) di Taman Budaya, Expo Waena.(Eka For Cepos)

JAYAPURA – Sebuah karya seni garapan Eka Nusa Pertiwi dan Zeth Nendissa tentang tanah leluhur Papua bakal dipentaskan dalam pegelaran seni kreasi Papua  di Taman Budaya, Expo Waena pada hari ini (Senin, 7/11). Sebuah cerita tentang persoalan kekayaan alam yang satu persatu terlepas hingga akhirnya  tersisa hanya penyesalan. Cerita yang diambil dari kondisi ril masyarakat di Papua ini akan dikemas dalam bentuk kolaborasi seni teater dari Komite Seni Budaya Nasional (KSBN) Papua dan dan tarian dari Sanggar Honai. “Kami coba mengangkat kembali kebiasaan – kebiasaan yang masih terjadi di tengah masyarakat kita soal bagaimana sengketa lahan, jual beli kawasan hingga akhirnya berujung pada konflik antar warga dan yang paling sering adalah masyarakat adat yang dirugikan. Ini tak bisa dipungkiri bahwa masih banyak kawasan di Papua yang ceritanya akan sama,” ujar Eka disela – sela persiapan di Kotaraja, Sabtu (5/11).

Eka sendiri merupakan  seorang aktris yang sudah malang melintang bermain film termasuk layak lebar. Wanita kelahiran tahun 1990 ini merupakan alumni Institut Seni Jogyakarta dan memiliki basic seni teater. Ia kali ini tengah membantu menumbuhkan seni teater di Papua yang menurutnya memiliki tantangan tersendiri. Dalam ceritanya, ia bersama dosen ISBI Tanah Papua, Zeth Nendissa mencoba mengangkat soal persoalan lahan dan hutan di Papua dimana menurutnya banyak orang melepas lahan dan hutan hanya karena kebutuhan ekonomi. Kebutuhan perut yang tak bisa dielakkan. Akhirnya satu persatu kawasan hutan yang menjadi warisan turun temurun dijual dan dilepas kepada investor pemilik modal.

Ada yang dijual ke pemilik perusahaan perkebunan sawit ada juga yang dijual ke pemodal perusahaan tambang. “Dan hasilnya, masyarakat hanya duduk di rumah kebingungan dimana dusun mereka, dimana lahan mereka yang harusnya diberikan kepada anak cucu,” beber Eka. Cerita ini dikemas menarik karena melibatkan beberapa anak Papua dari  wilayah adat yang berbeda. “Dan diakhir pentas endingnya akan menceritakan baik si pemilik hutan ataupun lahan termasuk keluarganya akan tewas karena peluru. Namun mereka akan tersenyum ketika melihat pertolongan dari Tuhan,” imbuhnya. (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *