Kadinsos Akui Sejumlah Anak di Ilwayab Kecanduan Lem Aibon

Yohanes Samkakai. (Sulo/Cepos)

MERAUKE-Kepala Dinas Sosial Kabupaten Merauke Yohanes Samkakai mengakui sejumlah anak-anak di Wanam, Distrik iIwayab, Kabupaten Merauke sudah kecanduan lem aibon.  Bahkan, bukan lagi hanya kecanduan aibon.

  “Memang awalnya  aibon tapi setelah kita cek ternyata sudah menggunakan premium.  Karena tu lingkupnya kecil disana dan berdasarkan perintah dari   aparat kepolisian di sana sehingga lem di sana dijual secara ketat. Artinya dijual dengan dikontrol, sehingga mereka tidak dengan bebas menggunakan,’’ kata Johanes Samkakai saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (3/11).

   Berdasarkan informasi yang dirinya terima, kata Yohanes Samkakai, bahwa untuk lem  aibon sudah  dapat dikendalikan oleh aparat. Namun setelah mereka tidak mendapatkan lem aibon tersebut, anak-anak itu  beralih ke premium. ‘’Bagaimana  premium mau ditutup sementara BBM ini sangat vital dan dibutuhkan masyarakat.  Itu permasalahannya di sana,’’ katanya.

   Untuk mengatasi  itu, jelas Yohanes Samkakai,  anak- anak tersebut memang  harus melalui suatu proses rehanilitasi. “Kami dinas sosial  memang mempunyai  tangung jawab terhadap itu. Tapi saat ini, belum bisa kita lakukan karena keterbatasan sarana dan sumber daya dan itu saya akui.  Karena kalau  namanya rehabilitas maka dia harus ada tempat.”ungkapnya.   

  Tapi bukan berarti tidak bisa diupayakan.  Menurut Yohanes, pihaknya akan melihat kembali bahwa anak-anak ini datang dari mana. Dia kan datang dari keluarga. Maka perlu ada kerjasama lintas antara SKPD, pemerintahan setempat, aparat setempat dan keluarga serta pihak terkait lainnya seperti gereja dan sebagaimanya.

  Karena itu, tambah Yohanes  Samkakai pihaknya akan  melakukan itu di tahun 2022 dimana  pihaknya sudah melakukan planning. “Wanam itu kalau dilihat anak-anak asli Papua yang datang dari kampung-kampung terdekat. Keluarganyapun ada di situ. SD dan SMP  ada  tapi persoalannya  ada di situ. Ada pembiaran yang dilakukan keluarga.”ujarnya.

   “Contoh di kota, anak-anak   itu juga dipekerjakan  oleh orang tuanya untuk ikut menafkahi keluarga, dan itu sebenarnya sebuah pelanggaran. Karena namanya anak-anak itu dia harus  bermain dan belajar dan membantu keluarga. Tapi membantu disini bukan menjadi salah satu tulang punggung dalam keluarga  karena dia masih harus sekolah,’’pungkasnya. (ulo/tri)    

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *