Disiplin Ilmu Bertambah Harus Lahirkan Inovasi Baru

Mahasiswa/I Uncen, Freda Yanne Imbiri dan Makmur Tajudin ketika mengikuti proses sidang promosi doktor  di hadapan tim penguji di Kantor Dekanat Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Uncen, Senin (1/11) kemarin. Keduanya dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan. (Gamel Cepos)

JAYAPURA – Universitas Cenderawasih (Uncen) kembali menambah panjang alumni yang mengantongi gelar doktor . Ini setelah pada Senin (1/11) kemarin  dua mahasiswanya, Freda Yanne Imbiri dan Makmur Tajudin  dinyatakan lulus dalam promosi doktor  yang digelar di Dekanat Fakultas Ekonomi dan  Bisnis, Uncen Waena. Para tim penguji baik dari internal dan eksternal juga sepakat memberikan kedua mahasiswanya ini dengan nilai A dan predikat sangat memuaskan. Dalam disertasinya Freda Imbiri mengangkat tema soal analisis pengaruh kompetensi dan fasilitas terhadap kepuasan peserta JKN-KIS dimediasi oleh kualitas pelayanan pada Puskesmas Wamena, Puskesmas Tiom dan Puskesmas Karubaga.

Sedangkan Makmur Tajudin mengambil penelitian soal pengaruh kepemimpinan dan lingkungan kerja terhadap kinerja pegawai dimediasi oleh motivasi kerja pada  dinas pendidikan perpustakaan dan arsip daerah Provinsi Papua. Sebelum dinyatakan lulus, keduanya dicecar pertanyaan oleh  tim penguji yang dipimpin oleh Dekan Fakultas Ekonomi dan  Bisnis, Dr Mesack Iek didampingi Dr Anita Erari, Dr Ferdinand Risamasu, Dr M. Ridwan Rumasukun, Prof Dr Batlazar Kambuaya, Dr Drs Benhur Tomi Mano, Prof Dr Yohanis Rante, Dr Oscar Wambrauw, Dr Arius Kambu, Dr Ruben Tuhumena. Disini Freda sampaikan bahwa dari penelitiannya yang berlangsung 6 bulan lebih ini ia mengumpulkan 300 quote langsung dari masyarakat.

Upayanya ini diakui tak mudah karena membutuhkan waktu selama 6 bulan. Freda menjelaskan bahwa ada sejumlah indicator yang mempengaruhi kepuasan pelayanan bagi peserta JKN-KIS di tiga puskesmas di atas. Mulai dari  tidak adanya tenaga dokter namun bangunan ada, adanya fasilitas dan bangunan namun tenaga medisnya justru tidak ada kemudian perlengkapan sarana prasarana.  Freda berkeinginan akan kembali ke tiga puskesmas ini dengan harapan  masyarakat tiga lokasi berbeda ini bisa mendapatkan pelayanan layaknya di Kota Jayapura. “Bisa saya simpulkan bahwa kompetensi  berpengaruh signifikan dan positif terhadap kualitas pelayanan. Ini artinya semakin membaiknya kompeteni petugas memberi  layanan baik motivasi maupun watak, sikap dan pengetahuan secara tidak langsung akan meningkatkan kualitas pelayanan yang baik juga,” ujarnya.

Ia menceritakan pengalamannya kadang pasien sudah datang sejak pagi namun dokter baru muncul jam 10 pagi. Ada juga dokter tidak ditempat dan tenaga kesehatan yang tak dan fasilitas yang tak lengkap. “Masyarakat juga memiliki pemikiran jika ia ditangani orang berseragam putih maka itu dianggap sudah ditangani dokter,” tambahnya. Beberapa pertanyaan juga diajukan tim penguji namun semuanya dijawab dengan lancer oleh Freda. Sementara untuk Makmur Tajudin disebutkan bahwa ada upaya untuk memudahkan pengunjung Perpustakaan dan Arsip Daerah dalam mencari buku yaitu menerapkan system digitalisasi. Tajudin berharap ini bisa diterapkan di 5 wilayah adat guna menumbuhkan semangat literasi bagi warga setempat

Menariknya jika Freda membutuhkan waktu 5 tahun untuk menyelesaikan studinya, Tajudin justru membutuhkan waktu sekitar 7 tahun. Ini tak lepas dari musibah yang dialami  pada 2017 lalu dimana rumahnya terbakar dan seluruh dokumen soal disertasinya ikut terbakar. Ia mengaku sempat pusing dan hampir putus asa, namun karena bimbingan para dosen akhirnya ia memutuskan untuk tetap maju.

“Cukup lama tapi ini tak lepas dari musibah tadi. Awalnya saya berfikir ia (tajudin) akan berhenti ternyata justru tetap maju,” ujar Dr Ferdinand Risamasu. Prof Dr Yohanis Rante juga memberi catatan bahwa setelah mengantongi gelar doktor  maka sudah sepatutnya ada perubahan dan inovasi baru. “Harus ada perubahan dalam tugas sebab jika tidak ya percuma, tugas yang dijalankan harus bisa diselesaikan lebih baik dan kalian yang harus membuat perbedaan itu tadi,” tutup Yohanis Rante. (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *