Tangani Anjal, Butuh Dukungan Semua Pihak

Jalan Irian Wamena yang sering dijadikan tempat mencari makan  anak-anak jalanan di Kota Wamena dengan cara  jasa menutup kendaraan bermotor yang parkir. (Denny/ Cepos)

WAMENA-Kepala Dinas Sosial Kabupaten Jayawijaya Nicolas Itlay mengaku pihaknya telah merancang peraturan daerah untuk penanggulangan anak jalanan (Anjal) yang semakin banyak di Jayawijayan dan telah disahkan DPRD Jayawijaya. Diharapkan, tahun depan bisa membuat satu bangunan untuk menampung dan melatih mereka agar memiliki keahlian khusus, sehingga bisa lepas dari hal -hal buruk seperti kebiasaan menghisap lem Aibon.

  Menurut Nicolas, jika  dicermati di lapangan, anak -anak jalanan ini bukan dari kabupaten Jayawijaya, sehingga untuk penanganannya butuh dukungan dari semua pihak. Sebab, mereka lebih banyak berasal dari Kabupaten pemekaran, sehingga diharapkan ada dukungan angaran dari kabupaten pemekaran untuk penanggulangan masalah anak -anak jalanan ini.

  “Selama ini beban pembiayaan hanya dilimpahkan ke Jayawijaya melalui dinas Sosial, sedangkan ada pertambahan anak -anak yang menggantungkan hidupnya di jalan yang rata -rata bukan dari Kabupaten Jayawijaya tetapi dari kabupaten pemekaran,”ungkapnya Jumat (29/10) kemarin.

  Sejauh ini, lanjut Nicolas, dari kabupaten pemekaran tempat asal  anak -anak ini sama sekali belum melakukan peninjauan. Mungkin mereka datang ke Jayawijaya bersama orang tuanya, namun anak-anak dibiarkan tanpa dibina dan dididik, sehingga terpengaruh dengan sering menghisap lem aibon.

   “Kebanyakan mereka ini ada di Jalan Irian dengan Pasar Jibama atau pusat keramaian di Kota Wamena, mereka ini paling banyak berasal dari Kabupaten Lanny Jaya dan Tolikara yang mendominasi,”jelas Nicolas Itlay.

  Ia juga memastikan keberadaan anak jalanan di dalam Kota Wamena ini kebanyakan pernah mengecap pendidikan, tetapi terputus dan hingga saat ini tidak pernah lagi bersekolah. Mereka  hanya mencari rezeki di jalan dengan menutup motor. Ironisnya,  rezeki yang didapatkan bukan untuk sesuatu yang berguna, tetapi untuk membeli Aibon.

  “Kami sudah melarang toko -toko ATK untuk tidak menjual Lem Aibon, Castol sembarang orang, tetapi karena bisnis sampai sekarang masih terus melakukan penjualan. Contoh saja seperti pembuat miras lokal Balo fermentasi ragi, meskipun ditangkap dilarang tetapi masih saja membuat dan menjual,”bebernya Nickolas.

  Mantan Kepala Distrik Hubikiak juga menyatakan untuk upaya penertiban, saat ini sudah ada peraturan daerah yang telah disahkan DPRD Jayawijaya, sehingga pihaknya sudah bisa mengambil langkah menertibkan anak jalanan di Kabupaten Jayawijaya. Artinya ini akan ditertibkan lalu dikembalikan ke daerah asalnya, agar tidak ada lagi anak Jalanan di Wamena.

  “Mungkin pemerintah menyediakan rumah singgah untuk anak-anak itu agar mereka bisa dididik disana agar memiliki keahlian sehingga mereka tidak lagi terjun menjadi anak jalanan untuk menghisap lem Aibon,”tutupnya.(jo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *