Pemuda Harus Paham Jati Diri

Ondoafi, George Arnold Awi ketika berdiskusi dengan para pemuda di Pantai Hecnuck Holtekam, Sabtu (30/10). Ia berpesan agar anak – anak muda tidak melupakan jati dirinya.(Gamel Cepos)

JAYAPURA – Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Port Numbay, George Arnold Awi mengungkapkan bahwa di era sekarang penting bagi generasi penerus untuk tidak melupakan kebiasaan dan tradisi yang dilakukan oleh orang tua – tua dulu. Ada banyak norma dan tatanan yang harus dipahami oleh anak muda sekarang  sehingga meski era modern makin mengancam namun ada jati diri yang tak boleh dilupakan. Generasi saat ini menurutnya juga tak boleh terbuai dengan kemajuan jaman mengingat jika terbawa arus globalisasi tanpa bisa membatasi maka akan tergerus dengan sendirinya.

“Ada banyak cerita yang harusnya dipahami anak – anak jaman sekarang. Jangan karena jaman ini semakin maju akhirnya mereka melupakan semua itu. Sebagai anak yang melekat status adat ia harus paham, adanya dia itu seperti apa,” ujar George Awi kepada puluhan anak muda di Pantai Hecnuck, Holtekam, Sabtu (30/10). Ia mengaku khawatir karena diakui bahwa saat ini norma – norma dan ketika yang dimiliki anak – anak millenial mulai melupakan jati dirinya sendiri. Tidak lagi mengenal silsilah, bahasa ibu maupun  norma yang dimiliki oleh adat. Meski diakui ada juga kelemahan –  kelemahan dari lembaga adat yang belum sepenuhnya mampu mentransfer nilai – nilai yang dimaksud di atas.

“Ini juga PR bagi kami tapi kami berharap meski ada yang kurang, nilai – nilai jati diri ini bisa disampaikan oleh orang tua masing – masing,” bebernya. Ia mencontohkan soal dalam rumah biasa ada makanan yang disiapkan untuk orang tua atau orang yang dihormati. Nah bagian – bagian ini tidak boleh dipakai atau digunakan oleh orang lain tanpa seijin orang tua. Ia  lantas mengaitkan dengan nilai  tradisi sebagai  Ondoafi bagi  masyarakat. “Orang sudah banyak yang tidak menghargai sosok Ondoafi. Sata ambil contoh mahkota yang biasa dikenakan kini sering digunakan oleh sembarangan orang. Ini tidak menghargai nilai adat dan budaya menurut saya. Harusnya jika itu topi kebesaran Ondoafi ya jangan dipakai lagi, Itu yang saya bilang jangan melupakan nilai dan jati diri meski era dan jaman terus berkembang,” pungkasnya. (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *