Ketua DPRP Setuju Regulasi Soal Cenderawasih Perlu Disiapkan

Ketua DPR Papua, Johny Banua Rouw ketika berdiskusi dengan para puteri cilik dan remaja Papua pada kegiatan Aksi Muda Jaga Iklim yang digelar di Pantai Holtekam, Jayapura, Minggu (31/10) kemarin.(Gamel Cepos)

JAYAPURA – Ketua DPR Papua, Johny Banua Rouw sependapat jika dari aspirasi yang terdengar selama ini terkait perlindungan satwa dilindungi khususnya Cenderawasih bisa mendapat tempat yang lebih kuat dalam bentuk produk hukum. Ia tak memungkiri bahwa jika melihat dengan kondisi terkini satwa dilindungi  endemic Papua maka sudah waktunya diproteksi dengan aturan.

“Saya pikir saya sepakat bahwa ada yang harus kita proteksi dan menurut saya ini tidak sulit mengingat turunannya yakni undang – undang sudah ada yang mengatur, tinggal kita  kawal dari regulasi daerah,” kata Johny Banua usai menerima aspirasi kelompok muda peduli lingkungan di Jayapura dari penutupan Aksi Muda Jaga Iklim di Pantai Holtekam, Minggu (31/10).

Dikatakan jika selama ini Cenderawasih menjadi kebanggan bersama untuk Papua maka sudah sepantasnya ia juga diproteksi. Jangan lagi ada perburuan ataupun Cenderawasih yang mati akibat terjadinya jual beli. Johny juga melihat bahwa meski ada  kelompok yang berjuang namun tak dipungkiri jika satwa ini masih dianggap sebagai peluang bisnis yang menguntungkan.

“Kita lihat saja, banyak yang bersuara bahkan saya dengan upaya perlindungan satwa ini dikampanyekan sampai ke Amerika tapi sekarang coba lihat. Di Jayapura ini masih ada lapak – lapak yang menjual itu (Mahkota Cenderawasih) coba saja lihat,” bebernya.

Karenanya ia setuju jika pihak terkait dalam hal ini harus lebih tegas dan memperhatikan perdagangan dari bagian satwa dilindungi ini. Ketua DPRP juga mendengarkan aspirasi dari para pemuda pegiat lingkungan yang salah satunya menyampaikan bahwa jika di luar ada gajah yang mati tertembak, harimau yang mati kena jerat dan orang utan yang mati akibat masuk perkampungan kemudian dianiaya warga maka banyak sekali warga yang memberi simpati dan memarahi para pelaku.

Bahkan kadang muncul hastag soal matinya hewan tersebut. Akan tetapi mengapa Cenderawasih yang  sama – sama hewan dilindungi ketika banyak diburu dan dijual belikan kemudian ada juga yang dipakai di kepala – kepala pejabat teryata tidak  mendapat suara apapun.

“Kami minta DPRP juga memikirkan ini. Jangan  gajah mati kita ribut, harimau mati kita bersuara sementara Cenderawasih mati semua diam seribu Bahasa,” sindir Ikbal Asra dari Eco Defender. Ia meminta DPRP mengeluarkan regulasi berbentuk perdasi untuk menyelamatkan Burung Cenderawasih. Begitu juga dengan hari Cenderawasih plus Festival Cenderawasih. “Kami pikir ini permintaan yang lumrah di tengah kekhawatiran kami selama ini. Semoga ini dipikirkan dan bukan dianggap biasa biasa saja,” tutupnya. (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *