Cinta Segitiga Berujung Ancaman Hukuman Mati

Proses penyerahan tahap II kasus pembunuhan berencana di Holtekamp dengan tersangka VL (istri korban Nasrudin) dan MM di kantor Kejari Jayapura, Jumat (29/10). (Elfira/Cepos)

*Kasus Pembunuhan Berencana Holtekamp Tahap II
Judul Sambungan: Terungkap, Tersangka Pernah Mengobrol Masa Depan, Termasuk Akan Bangun Usaha Bersama

JAYAPURA-Menggunakan rompi oranye dengan tangan diborgol, VL alias Caca dan MM alias Mahdi tersangka pembenuhan berencana terhadap korban Nasrudin alias Acik (suami tersangka VL) tiba di kantor Kejaksaan Negeri (kejari) Jayapura, Jumat (29/10) sekira pukul 09:09 WIT.
Keduanya tiba dengan mobil yang berbeda serta dikawal ketat oleh anggota Satuan Reskrim Polresta Jayapura Kota. Mahdi menggunakan rompi oranye bertuliskan angka 19 dengan dalaman kemeja hitam coklat, sementara Caca menggunakan rompi oranye dengan dalaman kemeja putih.
Usai turun dari mobil, Mahdi sempat menoleh ke arah Caca. Ini kali pertama kedua tersangka yang menjalin cinta segitiga itu dipertemukan pasca rekonstruksi pada Agustus lalu.
Mahdi sendiri penahanannya dititipkan di Rutan Mapolda Papua selama 119 hari, sementara Caca ditahan di Rutan Polresta Jayapura Kota selama 115 hari.
Setibanya di kantor Kejari Jayapura, duduk sebentar di ruang tunggu, kedua tersangka didampingi penyidik Reskrim Polresta Jayapura Kota dan kuasa hukumnya diarahkan ke samping kanan kantor Kejari untuk pemeriksaan berkas dan diinterview oleh pihak Kejaksaan Negeri Jayapura yang dipimpin langsung Kepala Kejaksaan (Kajari) Jayapura, Bambang Permadi.
Sebelum diinterview, Kajari mempersilakan Caca berdoa terlebih dahulu. “Saling kangenan ? Biasa saja” begitu ucapan Caca menjawab pertanyaan dari salah satu tim dari JPU Pengadilan Negeri Jayapura.
Dalam penanganan perkara ini, Kajari Jayapura sebagai tim Jaksa Penuntut Umum (JPU). Kasus ini menjadi atensi pasalnya tersangkanya adalah warga negara asing.
Di hadapan Kajari Bambang Permadi, mata Caca terlihat berkaca-kaca ketika Kajari melontarkan pertanyaan ke Caca. “Di mana suamimu? Siapa yang bunuh suamimu? tanya Kajari.
“Dibunuh dengan sebilah pisau,” jawab Caca dengan jeda waktu sekira 1 menit.
“Saya tidak punya niat membunuh,” kata Caca penuh emosi dengan mata berkaca-kaca.
Caca mengakui bahwa suaminya Nasrudin meninggal setelah dirinya mengenal Mahdi, pria berkebangsaan Afghanistan yang dikenalinya sejak Desember 2020 lalu. Kemudian menjalin cinta terlarang.
Ketika Kajari bertanya masih cinta dengan Mahdi, dengan malu-malu Caca menjawab bahwa sekarang tidak lagi.
Selama menjalin cinta Januari hingga Juni 2021, bisa dibilang Caca yang membiayai hidup Mahdi. Caca juga mengaku kerap mentransfer uang untuk Mahdi mulai dari Rp 2 juta hingga 15 juta. Ia mentransferkan uang ketika Mahdi meminta.
Di hadapan Kajari, Mahdi mengakui bahwa antara dia dan Caca pernah mengobrolkan masa depan. Termasuk mengobrolkan akan membangun usaha bersama. “Kami berdua ada keinginan untuk hidup bersama,” kata Mahdi.
Kajari Bambang Permadi menyampaikan, dengan adanya ketetapan P.21 atau berkas dinyatakan lengkap oleh tim JPU Kejari Jayapura. Dalam penanganan perkara perencanaan pembununhan yang dilakukan Mahdi dan Caca, pihaknya menerima penyerahan tersangka dan barang bukti tersebut.
“Dari hasil pemeriksaan, barang bukti yang ada mendukung perbuatan yang dilakukan oleh tersangka,” kata Bambang usai menerima langsung penyerahan tersangka dan barang bukti.
“Yang menjadi perhatian adalah, seorang isteri dengan pacaranya melakukan ini direncanakan  kurang lebih sekira 3 bulan yang lalu. Karena melihat si suami punya usaha emas. Padahal  sebenarnya si isteri sudah bersama suaminya kurang lehih sekitar 9 tahun,” sambung Kajari.
Lanjut Kajari, dengan bertemu seorang warga Afghanistan, timbul niat mereka untuk menguasai  harta korban, sehingga terjadi perencanaan pembunuhan. Atas perbuatannya itu, kedua tersangka disangkakan pasal 338 dan 340 tentang pembunuhan dan perencanaan pembunuhan dengan ancaman hukuman mati.
“Hukuman mati bagi tersangka jika dalam pembuktian  jaksa dan hakim yakin bahwa itu terbukti,” tegas Bambang.
Dikatakan, kasus ini akan segera dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Jayapura setelah melengkapi adiministrasi. “Proses adiministrasi selama 14 hari, setelah itu kita limpahkan. Tapi sebelum 14 hari biasanya kita sudah  sampaikan ke Pengadilan Negeri Jayapura,” terangnya.
Dijelaskan, terkait perkara ini, surat perintah Kepala Kejaksaan Negerai Jayapura menunjuk tim JPU dan dirinya sendiri menjadi bagian dari tim JPU itu.
“Kasus ini sebulan yang lalu menjadi atensi pimpinan dari Jakarta, menyangkut adanya warga negara asing yang melakukan perbuatan pidana yang mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain,” tutupnya.
Sementara Penyidik Satuan Reserse Kriminal Polresta Jayapura Kota menyerahkan dua terduga pelaku pembunuhan pengusaha perhiasan emas bernama Nasrudin alias Acik ke JPU di Kantor Kejaksaan Negeri Jayapura, Jumat (29/10) pagi.
Kasat Reskrim Polresta Jayapura Kota, AKP. Handry M. Bawiling menyampaikan, penyerahan kedua tersangka berdasarkan surat hasil penelitian berkas perkara yang telah dinyatakan lengkap atau P.21 oleh pihak kejaksaan atau JPU.
Sebelumnya, terjadi kasus penganiayaan yang mengakibatkan korban bernama Nasrudin atau Acik (44) meninggal dunia di Jalan Hanurata Hol Balai Distrik Muara Tami, Senin (28/6) sekira pukul 21.30 WIT.
Korban meninggal dunia dengan beberapa luka bekas benda tajam di sekujur tubuh di antaranya di kepala, punggung tangan dan kaki korban. Sementara para tersangka diamankan tak lama setelah kejadian.
Isteri korban dengan inisial VL dijemput Polisi di Makassar, sementara tersangka MM diamankan di Entrop. (fia/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *