Miris, Sekolah Dipalang, Guru dan Siswa Sedih

Sejumlah guru tampak berdiri dan duduk di luar pagar sekolah SMP Negeri 1 Sentani ketika pagar sekolah di palang oleh pemilik ulayat tempat berdirinya sekolah itu, Rabu 27/10. (Robert Mboik/Cepos)

SENTANI- SMP Negeri 1 Sentani di palang oleh pemilik ulayat. Pemalangan sekolah tersebut dilakukan dengan cara menggembok pintu pagar utama masuk dan keluar sekolah itu. Peristiwa ini membuat guru dan siswa sedih, lantaran mereka baru saja memulai kegiatan belajar mengajar tatap muka di sekolah sejak Senin (25/10), lalu, sejak merebaknya pandemi covid 19.
Kepala SMP Negeri 1 Sentani, Yokbeth Wally, mengungkapkan kesedihannya lantaran di tengah semangat guru dan siswa menjalankan aktivitas KBM di sekolah ditengah pengendalian penyebaran pandemi covid 19 ini, tantangan baru muncul dengan adanya masyarakat adat yang melakukan pemalangan sekolah hingga berbuntut pada terhentinya aktivitas belajar mengajar di sekolah itu.
“Sedih ya sebenarnya, guru dan siswa sangat senang ketika baru pertama kali kami melakukan kegiatan KBM sejak Senin lalu, kemudian Selasa libur karena Hut GKI, dan hari ini kami harus pulang karena sekolah di palang,” ujar Yokbeth Wally kepada media ini, Rabu (27/10).
Pihaknya pun tidak bisa berbuat banyak untuk menghadapi situasi ini. Namun mereka berharap agar pemerintah Kabupaten Jayapura melalui Dinas Pendidikan bisa mengambil langkah untuk mengatasi persoalan ini. Apalagi kata dia, saat ini pihaknya sedang fokus untuk mempersiapkan penilaian akhir semester dan pelaksanaan penilaian akhir semester bagi kelas 9. Di mana Ini juga menjadi syarat utama bagi siswa kelas 9 untuk mengikuti ujian dan tentunya akan dilaporkan ke pusat daftar peserta ujian Akhir Sekolah.
“Sejak terjadinya pandemi covid 19 tahun 2020 hingga sekarang belum tatap muka di sekolah ini. Kami baru mencobanya mulai dari Senin kemarin,” paparnya.
Peristiwa pemalangan sekolah ini mendapat perhatian serius dari aparat keamanan. Polsek Sentani kota di bawah pimpinan AKP Rozikin, mendatangi tempat kejadian dan melakukan koordinasi dengan pihak pemilik ulayat. Berdasarkan pengakuan pemilik ulayat kepada pihaknya, aksi pemalangan itu dilakukan, lantaran masyarakat kecewa dengan pemerintah yang sampai saat ini belum menyelesaikan persoalan tanah tersebut.
“Tadi kami sudah datangi pemilik ulayat dan mereka sampaikan pemalangan itu itu dilakukan karena pemerintah belum menindaklanjuti penyelesaian tanah itu. Katanya sudah ada keputusan inkrah dari pengadilan yang dimenangkan oleh pemilik ulayat. Tapi tadi saya sudah minta bukti surat dokumen itu untuk selanjutnya nanti akan koordinasi dengan pemerintah,” ujarnya. (roy).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *