Sejumlah DPO Kerusuhan Yahukimo Masih Dikejar

Kapolres Yahukimo, AKBP Deni Hendriana mendampingi Bupati Yahukimo, Didimus Yahuli disela –sela pembukaan kegiatan Musrenbangda di Dekai pekan kemarin. Hingga kini Kota Dekai kondusif dan situasi berangsur – angsur pulih.(Gamel/Cepos)

YAHUKIMO-Perlahan-lahan situasi keamanan daerah di Kabupaten Yahukimo berangsur – angsur pulih. Aktifitas warga dan pegawai termasuk DPR juga sudah berjalan normal. Pasar, perbankan dan aktifitas lainnya sudah kembali seperti biasa.

   Meski demikian setiap hari aparat keamanan masih melakukan patroli dan melakukan pengamanan di titik-titik yang dianggap rawan. Agenda bupati dan wakil bupati dalam menghadiri kegiatan-kegiatan juga didampingi aparat keamanan.

   Kapolres Kabupaten Yahukimo, AKBP Deni Hendriana  kepada Cenderawasih Pos menyampaikan bahwa pasca penyerangan pada 3 Oktober lalu,  situasi  Distrik Dekai Kabupaten Yahukimo kini kembali normal. Lokasi pengungsi yang berjumlah ribuan sudah kembali dan sekarang ditempati satgas.

   “Situasi terakhir pelaku usaha, pihak swasta dan pemerintah sudah melakukan pekerjaannya seperti biasa. Untuk kamtibmas penilaian kami aman  terkendali,” ujar Deni saat diwawancarai pekan kemarin.

  Untuk pelaku penyerangan dari hasil pemeriksaan dikatakan ada 24 orang yang dijadikan tersangka termasuk salah satu tokoh dari kelompok pelaku . Polisi kata Deni masih melakukan pengejaran terhadap beberapa Daftar Pencarian Orang (DPO) lainnya, sebab pelaku  diyakini berjumlah lebih dari 30 orang.

  “Ini baru satu titik di gereja, belum yang melakukan penyerangan di gereja Brasa, bakar mobil dan rumah – rumah tapi pelaku utamanya sudah kami amankan,” katanya. Disinggung soal actor intelektual yang diduga memprovokasi dari Jakarta dikatakan untuk intelektual Polres Yahukimo menyerahkan semuanya kepada penyidik di Polda Papua untuk diusut secara cyber crime.

   Tapi jika ada input maka kami langsung share ke Polda. Kasus penyerangan ini diprovokasi dan dikaitkan dengan politik akhirnya kelompok masyarakat terprovokasi. “Saya sendiri mengecam sebab yang melakukan penyerangan kepada gereja itu hatinya iblis,” tegas Deni.

  Disinggung soal isu yang beredar di lapangan bahwa para pelaku mengincar bupati, mantan bupati, kata Kapolres Deni, sejatinya ini bukan hal baru. Sebab bukan hanya bupati dan mantan bupati yang diincar tetapi dirinya juga diincar oleh oknum – oknum tertentu.

  “Saya sendiri diincar oleh pelaku-pelaku yang masih DPO ini. Sampai sekarang mereka masih berkeliaran dan mencari kesempatan kosong untuk menyerang saya,” bebernya. Sementara untuk memulihkan rasa trauma dikatakan Polres dan Babinsa serta Satgas Noken Nemangkawi sama – sama melakukan trauma healing. Pertama di Polres, di Koramil dan halaman gereja dan kami coba memberi dukungan  secara psikolog anak – anak.

   Di sini Deni juga meluruskan bahwa  sebetulnya tak ada perang suku, hanya oknum yang melakukan tindak pidana dan itu murni tindak pidana. “Itu hanya oknum suku tertentu jadi bukan suku. Kami masih melakukan patroli gabungan dan mengajak para tokoh ikut bersama. Siskamling juga melibatkan masyarakat dan kami sambangi pos-nya masing – masing,” tutupnya.

   Sementara Ketua Komisi C DPRD Yahukimo, Yafet Saram menyampaikan bahwa pihaknya secara tegas meminta agar sekolah-sekolah dan rumah sakit bisa kembali diaktifkan seperti biasa.

   Ia melihat pasca kejadian banyak sekolah yang memilih meliburkan anak muridnya hingga sekarang. Ini menjadi sorotan Komisi C yang menurut Yafet jangan terlalu larut dengan situasi.  “Kewaspadaan penting tapi bukan berarti sengaja  membuat  sekolah tidak aktif. Saya minta segera diaktifkan, jangan seperti ini terus. Kapan kita akan mengejar ketertinggalan. Kalau khawatir minta pengawalan dari Polisi dan kami minta  sekolah – sekolah jangan menambah waktu istirahat karena situasi sudah mulai normal,” cecar Yafet.

   Bupati Yahukimo, Didimus Yahuli menyampaikan bahwa pihaknya mengecam tindakan penyerangan terhadap gereja termasuk pembantaian warga yang tak berdosa. Namun ia menyerahkan semuanya kepada aparat keamanan untuk dilakukan upaya penegakan hukum yang tegas dan terukur.

  “Tidak ada alasan pembenaran apapun jika menyerang gereja. Itu pertahanan terakhir manusia dan kalau gereja sudah diserang kami khawatir Tuhan akan marah dan menurunkan amarahnya,” beber Didimus. (ade/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *