Kalau Untuk Pembangunan Gereja, Maju Saja

Jhon Betaubun (tengah) memberi penjelasan soal pembangunan gereja GKI Jemaat Sborhoinyi kepada Bupati Elisa Kambu dan Bupati Bernard Sagrim di  Kotaraja, Senin (25/10) kemarin.(Gamel Cepos)

JAYAPURA – Sebuah semangat dititipkan oleh dua tokoh dari dua kabupaten berbeda terkait pembangunan gereja. Dua tokoh tersebut adalah Bupati Kabupaten Asmat, Elisa Kambu dan Bupati Kabupaten Maybrat, Bernard Sagrim. Keduanya menghadiri ajakan Wakil Ketua DPRD Kota Jayapura, Jhon Betaubun untuk melihat projek pekerjaan pembangunan gereja GKI Jemaat I.S Kijne Sborhoinyi Kotaraja. Keduanya menyampaikan pesan soal apa yang dibutuhkan dalam pembangunan gereja.

Baik Elisa Kambu maupun Bernard Sagrim sama – sama menyampaikan bahwa tidak semua harus berbicara uang jika ingin membangun gereja. Ada hal lain yang juga penting dan tak boleh ditinggalkan adalah semangat atau komitmen. “Jangan pikir uang, modal berapa itu maju saja. Kerjakan yang manusia bisa kerjakan. Sisanya biarkan Tuhan yang bekerja,” kata Bernard Sagrim di teras gereja GKI Sborhoinyi, Senin (25/10). Iapun menceritakan kesaksian soal pembangunan gereja di daerahnya dimana sudah 15 kali dilakukan pergantian panitia namun tak kunjung rampung.

Hanya karena semua memiliki komitmen menjalankan 4 hukum akhirnya bangunan ini selesai dan tiga orang yang ikut berkontribusi mendapat jawaban dari Tuhan menjadi kepala daerah.  “Dari usaha membangun gereja ini akhirnya ada tiga orang yang dibantu Tuhan, salah satunya saya menjadi kepala daerah,” tambah Bernard memberi kesaksiannya.

Elisa Kambu juga sama, ia meminta warga jemaat jangan ragu jika untuk rumah ibadah. “Ingat dulu Nuh membangun bahtera juga diejek tapi akhirnya ia dijamah Tuhan. Selagi masih siang, mari bekerja” sambungnya. Keduanya menyampaikan kesaksiannya ini untuk memotivasi panitia pembangunan gereja Sborhoinyi yang sedang membangun gereja 2 lantai. Kedua bupati ini juga memberi bantuan Rp 250 juga dari Bernard Sagrim dan Rp 500 juta dari Elisa Kambu. Sementara Ketua Klasis Maybrat, Netty Sagrim meminta mahasiswa asal Maybrat yang tinggal disekitar lokasi untuk membantu  pekerjaan pembangunan. “Mahasiswa Maybrat jika tidak ada kuliah silahkan membantu sebab ini akan jd lokasi pertumbuhan iman,” imbuhnya.

Jhon sebagai Ketua Panitia Seksi Usaha Dana menceritakan bahwa gedung gereja Sborhoinyi  di tahun 2001 hanya 45 jemaat namun seiring waktu saat ini ada 800 lebih jemaat dan  hampir 100 persen dari berbagai kabupaten di Papua termasuk dari Maybrat. “Saya menyebut kedatangan dua bupati ini sebagai orang Samaria yang dayang ke Sborhoinyi. Saya teringat dulu uang Rp 100 dipake sebagai uang kolekte dan dari angka itu kami kumpul sampai seperti sekarang,” jelasnya.

Jhon menyebut bahwa dana yang dibutuhkan untuk pembangunan adalah Rp 5,9 miliar namun baru terkumpul Rp 2,9 miliar. “Kami juga berterimakasih kepada Wali Kota Jayapura yang banyak membantu pembangunan gereja ini,” tutupnya. (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *