Mulok Perlu Masukan Bahasa Daerah dan Praktek Membuat Noken

Anggota DPRP Papua dari Kelompok Khusus (Poksus), Yonas Nusi (Yewen/Cepos)

JAYAPURA– Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (IT) akhir-akhir ini mempengaruhi para remaja dan pemuda membuat budaya di Papua seperti bahasa dan krearifan lokal seperti membuat noken lama kelamaan hilang.

Oleh karena itu, untuk melestarikannya, maka perlu diaktifkan kembali Muatan Lokal (Mulok) di sekolah-sekolah dengan pelajaran bahasa daerah setempat dan cara membuat noken sesuai dengan wilayahnya masing-masing.

“Ini merupakan salah satu hal yang harus dilakukan dalam melestarikan bahasa ibu dan juga melestarikan cara membuat noken kepada para remaja dan pemuda yang ada di Papua,” kata Anggota DPRP Papua dari Kelompok Khusus (Poksus), Yonas Nusi, pekan lalu.

Menurut Yonas, misalnya di Jawa Barat di sekolah-sekolah diajarkan bahasa daerah setempat, yaitu bahasa Sunda, sehingga para siswa harus belajar bahasa Sunda. Ini yang diterapkan di Jawa Barat.

Oleh karena itu, kata Yonas kekususan harus masuk dalam pengakuan, seperti belajar tentang kebudayaan dan adat istiadat merupakan kekhususan yang harus mendapatkan perhatian.

“Anak-anak sekarang menganyam noken saja susah. Apalagi di setiap wilayah ini memiliki cara membuat noken masing-masing. Hal inilah yang harus diterapkan di sekolah-sekolah di Papua,” ujarnya.

Yonas berharap, dalam pelajaran mulok di sekolah-sekolah bisa diterapkan pembelajaran mengenai bahasa daerah dan cara membuat noken. (bet/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *