Di Okhika Pelayanan Kesehatan dan Pendidikan Lumpuh

Sejumlah warga membantu menurunkan bantuan bahan makanan yang dikirim Pemkab Pegunungan Bintang di Distrik Okhika, Sabtu (23/10). (Polres Pegunungan Bintang)

*Ribuan Warga Mengungsi ke Hutan, Berobat dengan Obat Alam

JAYAPURA – Sebanyak 2.900 warga di Distrik Okhika masih mengungsi di hutan pasca aksi penyerangan pembakaran fasilitas Puskesmas, sekolah dan rumah warga yang terjadi pada 14 September lalu.

Selama berada di hutan, ribuan masyarakat Okhika ini tidak mendapatkan akses pelayanan kesehatan dan pendidikan. Bahkan ketika sakit warga harus mengobati diri mereka dengan obat-obatan alam.

Kepala Distrik Okhika, Kabupaten Pegunungan Bintang Ebius Bidana menyampaikan, warganya masih takut untuk kembali ke Okhika.  Kekhawatiran yang dirasakan warga adalah ketika kembali ke distrik mereka diserang.

“Yang ditakutkan masyarakat, jangan sampai ketika kembali ke distrik, mereka diserang dengan bom. Yang kembali ke kampung hanya bapak-bapak untuk mengecek situasi. Setelah itu kembali lagi ke hutan berkumpul bersama keluarga mereka,” ungkap Ebius saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos, Minggu (24/10).

Ebius menjelaskan, tak ada lagi aktivitas masyarakat di Distrik Kiwirok dan Distrik Okhika. Begitu juga dengan pendidikan dan pelayanan kesehatan.

“Kesehatan dan pendidikan sudah berantakan, semua gedung dibakar sehingga anak anak tidak sekolah. Di Kiwirok sendiri hingga saat ini masih terjadi kontak tembak antara OPM dan TNI-Polri,” kata Ebius.

Ebius menerangkan, saat kejadian 14 September lalu di Okhika, dimana terjadi aksi penyerangan yang menyebabkan pembakaran fasilitas publik. Ebius sendiri mengaku kehilangan lima ekor ternak babi, rumah dan kebun. Kini anak dan isterinya terpaksa mengungsi ke hutan.

“Anak isteri saya hingga saat ini masih ada di hutan mengungsi. Mereka dan ribuan warga lainnya bertahan hidup dengan hasil kebun,” terangnya.

Lanjut Ebius, di Distrik Okhika sendiri tidak ada personel TNI-Polri. Hampir dua bulan masyarakat hidup tanpa pelayanan kesehatan dan pendidikan di hutan. “Jika ada warga yang sakit mereka diobati dengan obat-obatan tradisional. Sebab pasca aksi pembakaran gedung Puskesmas, para nakes dan dokter langsung ditarik ke Oksibil,” tuturnya.

Dijelaskan, dari Okhika ke Oksibil ibukota Kabupaten Pegunungan Bintang bisa ditempuh dengan jalur darat dan udara. Jalur udara ditempuh dengan waktu 15 menit, sementara jalur darat dengan jalan kaki ditempuh dengan satu hari satu malam.

Terkait tak adanya aktivitas belajar mengajar di Okhika, Kadistrik Ebius berinisiatif untuk membawa para pelajar terutama pelajar kelas 6 SD, kelas IX SMP dan kelas XII SMA ke Oksibil untuk bersekolah.

“Rencana anak-anak ini kami bawa ke Oksibil untuk melanjutkan sekolah mereka, sehingga  pendidikan mereka tidak terganggu,” bebernya.

Kadistrik dan masyarakat Okhika lainnya berharap, situasi di wilayah mereka segera membaik. Sebab, imbas dari adanya konflik adalah anak-anak dan perempuan yang tidak merasa nyaman serta tidak mendapat akses kesehatan dan pendidikan

“Jangan biarkan masyarakat hidup dalam kecemasan konflik, kami harap konflik ini segera berakhir” harapnya.

Secara terpisah, Kapolres Pegunungan Bintang AKBP Cahyo Sukarnito menyampaikan, situasi di Distrik Okhika kondusif. “Di sana (Okhika-red) situasinya kondusif, pesawat saja bisa masuk di daerah itu” kata Kapolres saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos, Minggu (24/10).

Bahkan lanjut Kapolres, Pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang telah mendistribusikan bahan makanan kepada masyarakat yang ada di Okhika pada Sabtu (23/10).

Sebelumnya, pada 14 September lalu, sekelompok orang menyerang Distrik Okhika dan melakukan pembakaran fasilitas public seperti bangunan sekolah, puskesmas termasuk rumah warga. (fia/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *