Bulan ini, PT Bina Karya Libert Terakhir Jual Premium

Antrean Kendaraan di SPBU milik PT Bina Larya Libert Tanah Merah, Kabupaten Boven Digoel saat mengisi BBM. Mulai bulan November 2021, tidak ada lagi penjualan  BBM Premium di SPBU  tersebut.(Sulo/Cepos)

Dalam Rangka Dukung Program Pertamina Langit Biru

MERAUKE-Dalam rangka Program Pertamina Langit Biru, PT  Bina Karya Libert salah satu penyalur BBM di Kabupaten Boven  Digoel,  bulan Oktober ini merupakan bulan terakhir menjual premium atau bensin.

    “Sesuai dengan  program pertamina langit biru, bukan Oktober ini  merupakan bulan terakhir  kami menjual preminium,” kata Direktur PT Bina Karya Libert  Nickson Pampang, ketika ditemui di SPBU miliknya di  Tanah Merah, Jumat (22/10) lalu.

   Nickson Pampang, pihaknya mendukung setiap program Pertamina karena merupakan bagian  dari pemerintah. ‘’Karena pada dasarnya kami ini hanya penyalur. Bukan  yang menentukan mau jual ini dan itu saja. Sehingga apa yang menjadi program Pertamina, kita dukung dan suport,’’ terangnya.

   Menurut dia, preminium  tersebut diganti dengan Pertalite, Pertamax,  Dexilite. Soal sosialisasi kepada masyarakat terkait dengan akan hilangnya premium tersebut, Nickson Pampang mengaku sudah terus mensosialisasikan kepada masyarakat  yang ada di Boven Digoel.  Sosialisasi itu dengan menjual Pertalite dan Premium secara bergantian.

    “Pada dasarnya, masyarakat tidak protes, tapi lebih pada persediaannya. Jangan sampai putus. Yang penting ada.  Misalnya pertalite dan pertamax yang lebih  murah dibandingkan dengan preminium. Kalau premium di luar itu Rp 10.000 perliter, sementara Pertalite Rp 7.850 perliter, pertamax di SPBU hanya Rp 9.200 perliternya dengan RON yang lebih tinggi,” terangnya.

   Apalagi, lanjut  Nickson, apabila premium tersebut sudah dihilangkan dan hanya menjual pertalite, pertamax dan deslite, maka pihaknya akan membuka SPBU selama 18 jam dengan 2 shift.  “Kalau di Boven Digoel ini ada 3 penyalur, salah satunya adalah  saya sendiri,” terangnya.

    Sementara itu, Agusmi, salah satu  Sopir Angkot mengaku  tak mempermasalahkan soal preminium yang akan dihilangkan tersebut.  “Bagi kami sebenarnya adalah ketersediaanya. Jangan sampai terjadi kelangkaan seperti yang biasa terjadi selama ini, sehingga kalau kita membeli diluar SPBU harganya jauh lebih  mahal. Kalau pertalite, saya pikir masih  di bawah harga premium yang dijual di pinggir-pinggir jalan,” tandasnya. (ulo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *