Satukan Perbedaan, Warga Pegunungan Bakar Batu   

Tradisi Bakar Baru yang dilakukan oleh masyarakat pegunungan yang ada di Boven Digoel, Rabu (20/10) kemarin. Tradisi ini  sebagai rasa syukur  atas terpilihnya bupati dan wkail bupati defenitif Boven Digoel sekaligus untuk menyatukan kembali perbedaan politik yang terjadi saat Pilkada.(Sulo/Cepos) 

BOVEN DIGOEL-Masyarakat Kabupaten Boven Digoel akhirnya mempunyai pemimpin setelah bupati dan wakil bupati  terpilih Hengky Yaluwo, S.Sos-Lexi Romel Wagiu dilantik oleh Gubernur Papua  Lukas Enembe  beberapa hari lalu di Jayapura.

   Terkait dengan itu, masyarakat Pegunungan yang ada di Boven Digoel menggelar tradisi bakar batu di Honai, di kompleks warga Pegunungan, belakang pasar lama,   Bandara Tanah Merah,  Rabu (20/10).  Sedikitnya, 12  ekor babi dipotong dalam acara tradisi bakar batu yang sangat sakral tersebut.

    Ketua Tim 1 dan 4, Luther Gurik, kepada wartawan mengungkapkan bahwa bakar batu yang dilakukan  ini sebagai ucapan syukur yang dilakukan oleh orang gunung di Boven Digoel bersama dengan masyarakat  Boven Digoel. Sebab, Bupati Boven Digoel Hengky Yaluwo sebagai anak Korowai selama ini tinggal bersama di dalam satu Hanoi tersebut.

   “Ini sebagai rasa syukur dari kami sebagai orang tua sehingga masyarakat memilih dia sebagai bupati Boven Digoel,’’ katanya.

     Luther Gurik menjelaskan bahwa  12 ekor babi yang dipotong dalam acara tradisi bakar batu ini murni sumbangan dari masyarakat Pegunungan yang ada di Boven Digoel. “Jangan sampai ada yang berpendapat kalau ini sumbangan dari pemerintah daerah. Tidak. Ini  murni dari   kami masyarakat Pegunungan yang ada di sini,’’ tandasnya.      

     Dikatakan, bakar batu adalah adat paling sakral dari masyarakat Pegunungan, agar  kedepan bupati Hengky Yaluwo yang sudah diberi tanggung jawab selalu melayani masyarakat. “Jadi bakar batu  ini yang tadinya kami beda-beda, akhirnya kembali menjadi satu. Kalau dapat makan, jangan makan sendiri. Tapi bawa datang, masak sama-sama dan makan sama-sama. Jadi ini tradisi sakral kami. Dimana-mana kalau ada orang gunung pasti akan buat tradisi bakar batu ini, sehingga begitu jadi pejabat atau apapun dia maka layani masyarakat dengan baik,’’ terangnya.

    Luther Gurik juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Boven Digoel yang sudah hampir 2 tahun menunggu pemimpin defenitif dan sekarang sudah memilih bupati Boven Digoel. “Mari kita bergandengan tangan sama-sama bangun tanah kelahiran kita,” ajaknya.

   Ketua Panitia  penjemputan Klemes Rohua menjelaskan bahwa acara penjemputan yang dilakukan ini adalah untuk menyatukan kembali seluruh masyarakat Boven Digoel atas perbedaan politik yang terjadi selama Pilkada Boven Digoel.

   “Karena kita tahu bahwa pemilihan bupati di Boven Digoel merupakan pemilihan yang terpanjang dan di dalam proses itu perbedaan-perbedaan politik yang terjadi itu cukup lama sehingga melalui penjemputan ini  kita mencoba melakukan acara untuk mengikat dan memupuk kembali kebersamaan tersebut,” terangnya.

   Sebab, untuk membangun daerah Boven Digoel dibutuhkan  kebersamaan dari semua masyarakat yang ada di Boven Digoel.  Dikatakan, untuk acara  penjemputan ini tempat masak dilakukan di 2 lokasi yakni  bakar batu dan di kediaman mantan bupati Boven Digoel Yusak Yaluwo.

    ‘’Untuk bakar batu ada 12 ekor babi di bakar, sementara di kediaman  pak Yusak  ada 2 ekor babi dan 3 ekor sapi,’’ terangnya.

     Diketahui, bupati Hengky Yaluwo- Lexi Romel Wagiu terpilih dalam Pilkada Ulang yang digelar pada 17 Juli 2021 lalu. Pada pemungutan suara sebelumnya, Yusak Yaluwo-Yakob Waremba memperoleh suara terbanyak dari 4 Paslon, namun  MK melakukan diskualifikasi Yusak Yaluwo sehingga Pilkada Ulang harus digelar dengan 3 Paslon. Dari  PSU tersebut, pasangan Hengky Yaluwo, S.Sos-Lexi Romel Wagiu keluar sebagai pemenang dan akhirnya dilantik oleh Gubernur Papua Lukas Enembe menjadi bupati dan wakil bupati defenitif 2021-2024.  (ulo/tri)   

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *