Sepakbola Papua, 110 Game, Sekali Kalah dan Juara

Pemain Sepakbola Papua saat berduel dengan pemain Sepakbola Aceh dalam partai final PON XX 2021 yang dilaksanakan di Stadion Mandala Jayapura, Kamis (14/10). (Erik / Cepos)

JAYAPURA – Banyak yang tidak tahu soal perjalanan tim sepakbola Papua hingga berdiri di podium juara paling tertinggi di ajang Pekan Olahraga Nasional atau PON XX 2021 Papua. Sejak dibentuk 3 tahun silam, Sepakbola Papua sudah melakoni 110 kali game selama masa persiapan dan pertandingan di PON XX.

Fantastis, dari 110 game, anak asuhan Eduard Ivakdalam itu mampu meraih 100 kemenangan, 10 seri dan hanya sekali menelan kekalahan. Kuskus, merupakan tim lokal Papua yang pernah mengalahkan Sepakbola PON Papua. Saat itu, Sepakbola PON Papua harus tersandung dengan skor 1-0 dalam turnamen “Tarkam” bertajuk RHP Cup 2021.

Di PON XX 2021, Sepakbola Papua menyapu bersih 7 pertandingan, termasuk mengalahkan Aceh dengan skor 2-0 di partai pamungkas. Catatan tersebut terbilang istimewa setelah dilengkapi dengan gelar juara.

Juru taktik Sepakbola PON Papua, Eduard Ivakdalam mengatakan bahwa mereka tidak heran timnya bisa menjadi kampiun di PON XX 2021. Legenda hidup Persipura Jayapura dan Persidafon Dafonsoro itu mengaku tim yang tukangi merupakan tim yang memiliki mental juara.

“Tim ini dalam uji coba sampai game di PON sudah menjalani 110 pertandingan dan hanya 1 kali kalah di turnamen lokal, dan itu karena kita dicurangi saja. Dari awal mental pemain kami sudah bentuk untuk jadi pemenang itu, sehingga kita masuk dalam pertandingan di PON saya tidak pernah meragukan mereka,” ungkap Edu sapaan akrabnya kepada Cenderawasih Pos di Jayapura, Sabtu (16/10).

“Saya tidak pernah meragukan mereka, dan mereka bermain cantik dan hati mereka dibentuk untuk menjadi pemenang dan hasilnya masyarakat Papua bisa melihat secara langsung bagaimana tim ini bermain selama 7 game dan antusias masyarakat sangat luar biasa, dan mereka sudah membuktikan,” sambung Edu.

Hanya saja juru taktik Persemi Mimika itu sangat menyayangkan tim yang ia sudah bangun cukup lama itu harus berakhir alias bubar. Padahal Edu mengaku bahwa tim yang ia bentuk itu merupakan gambaran sepakbola Papua yang lahir kembali. Ia juga percaya, pemainnya kedepan akan mendapatkan banyak pinangan dari klub tanah air.

“Sangat saya sayangkan sekali, mereka harus berpisah. Padahal tim ini sudah sangat kuat sekali. Segala pengalaman saya waktu menjadi pemain sudah saya curahkan semuanya ke tim ini. Semoga ini awal untuk menentukan nasib mereka, pasti akan ada yang ke Persipura dan klub lainnya, semoga mereka bisa memperbaiki nasib mereka sendiri,” tutup Edu. (eri/gin).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *