Aset-Aset Bangsa yang Bersinar di PON Papua

Peraih medali emas Dhinda Salsabila dari Papua, tersenyum manis dengan medali emas .Dhinda meraih emas di nomor 200 M ITT cabang olahraga Sepatu Roda PON XX Papua, Selasa (28/9). (Foto : PB PON XX Papua/ Sunyoto).

JAYAPURA-Pergelaran Pekan Olahraga Nasional (PON) XX/2021 berakhir Jumat (15/10). Bintang-bintang baru bermunculan. Atlet-atlet muda menorehkan prestasi. Kini, mereka mencari ajang kompetisi baru dengan skala lebih besar.

Menjadi atlet sepatu roda adalah cara Dhinda Salsabila menunjukkan cintanya kepada sang ibunda. Mengikuti kompetisi skala nasional menjadi jalur yang dia pilih untuk menguji kemampuannya. Dan, medali emas yang dia raih dalam PON XX/2021 di Papua membuktikan kerja kerasnya.

”Ibu bilang kalau ingin anaknya jadi atlet sepatu roda,’’ kata Dhinda kepada Jawa Pos pekan lalu. Keinginan itu disampaikan saat mereka menonton kompetisi sepatu roda dalam PON XVIII/2012 di Riau. Ketika itu, mereka masih tinggal di Pekanbaru.

Gadis kelahiran 11 Agustus 2003 itu pun lantas tertarik pada sepatu roda dan menggelutinya secara profesional. Empat tahun berikutnya, dalam perhelatan PON XIX/2016 di Bandung, Dhinda menjadi roller yang mewakili Riau. Ketika itu, usianya masih 13 tahun. Dhinda gagal meraih medali pada PON perdananya tersebut.

Namun, pengalaman itu membuat Dhinda semakin mantap menceburkan diri secara profesional dalam cabang olahraga sepatu roda. Itu pula yang membuat dia hengkang ke Jakarta selepas PON Bandung. ”Alasannya karena daerah saya (Riau, Red) tidak bisa memberikan pembinaan kepada saya dan tim,’’ ungkapnya.

Di ibu kota, Dhinda bergabung dengan klub sepatu roda Cenderawasih Speed Skater. Seluruh pengurus klub adalah warga asal Papua. Dalam klub itu, bakat Dhinda kian terasah. Termasuk, kemampuan ice skating-nya. Bahkan, dia menggondol perak untuk Indonesia dari cabang olahraga ice-skating dalam SEA Games 2019.

Namun, passion Dhinda adalah sepatu roda. Karena itulah, setelah SEA Games 2019, dia fokus menjadi roller. Sampai kemudian, kesempatan untuk menguji kemampuannya kembali datang. ”Saya ditawari membela Papua dalam PON kali ini. Ya saya terima,’’ ujarnya. Apalagi, dia merasa banyak utang budi pada klub yang membesarkannya tersebut.

PON XX/2021 di Papua menjadi panggung gemilang Dhinda. Dia meraih 1 emas, 2 perak, dan 1 perunggu. ”Tentu saya sangat bangga bisa memberikan emas kepada daerah yang saya bela. Dengan hasil ini, saya harap sepatu roda semakin banyak peminatnya di Papua,’’ paparnya.

Empat medali itu melambungkan nama Dhinda. Foto-fotonya banyak beredar di internet. Paras ayu dan prestasinya sontak membuat atlet 18 tahun tersebut viral. Dampak yang tidak disangka-sangka olehnya. ”Saya sempat nggak percaya. Namanya atlet, ya saya cuma fokus latihan untuk pertandingan saja. Nggak kepikiran yang lain,’’ ungkap Dhinda.

Setelah populer di media sosial seperti sekarang, apa keuntungan yang dia peroleh? ”Saya jadi lebih banyak follower. Permintaan endorse juga makin banyak. Jadi, penghasilan juga bertambah,’’ ujarnya, lantas tersenyum. Dhinda berharap, apresiasi publik yang kini diterimanya dalam bentuk ketenaran tersebut membuatnya semakin bersemangat meraih prestasi.(JawaPos/gin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *