Tak Bisa Berjualan di SULE, Buka Lapak di Depan SIP

Piter ditemani cucu lelakinya saat berjualan di depan SIP, Sabtu (9/10) lalu. (Elfira/Cepos)

JAYAPURA – Mengaku tak punya orang dalam untuk berjualan di areal Stadion Utama Lukas Enembe (SULE), pria asal Wamena bernama Piter terpaksa menjajakan souvenir Papua  buatannya di trotoar jalan depan Sagu Indah Plasa (SIP)  Kota Jayapura.

Piter berjualan dengan cara berlesehan di tempat parkir ditemani cucu lelakinya, gelang, kalung, noken hingga cincin yang berasal dari kulit kayu hasil buatannya dijejer dengan rapi di atas karpet.

Soouvenir tersebut dijualnya dengan harga yang bervariasi, kalung Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu, cincin Rp 10 ribu, gelang Rp 20 ribu hingga Rp 50 ribu dan noken Rp 300 ribu hingga 400 ribu. “Souvenir saya semuanya berbahan kulit kayu yang saya ambil langsung dari Wamena dan saya buat sendiri,” kata Piter saat berjualan ditemani cucu lelakinya.

Selama pergelaran PON di Papua  khususnya di Kota Jayapura, ia mengaku respon pembeli sangat bagus. Cincin dan gelang paling banyak diminati pembeli dari luar Papua . “Cincin dan gelang paling banyak peminatnya, sehari bisa laku Rp 500 ribu. Berbeda dari sebelumnya yang hanya laku Rp 300 ribu,” terangnya.

Dikatakan Piter, dirinya pengen sekali berjualan di areal Stadion Lukas Enembe. Hanya saya, ia mengaku tak punya orang dalam untuk bisa mengakses ke sana. “Sayakan tidak punya orang dalam, jadi manfaatkan trotoar saja. Lagian di sini (depan SIP-red) orang banyak melintas,” terangnya.

Dikatakan Piter, dirinya berjualan Souvenir Papua  sejak 3 tahun yang lalu. Dari hasil berjualan souvenir itulah Piter membiayai kebutuhan keluarganya termasuk Pendidikan untuk anak anaknya. (fia/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *