Poksus DPRP Bahas Pengobatan Tradisional

Ketua Kelompok Khusus DPRP John NR. Gobai,  dalam diskusi webinar di Hotel Horison Kota Jayapura, Sabtu (9/10). (Yewen/cepos)

JAYAPURA– Papua memiliki keanekaragaman flora dan fauna yang tinggi, namun pemanfaatannya masih terbatas. Hal ini disebabkan oleh kurangnya kajian terhadap jenis obat yang sudah dimanfaatkan oleh suku-suku di Papua.

Padahal kata Ketua Kelompok Khusus (Poksus) DPRP, John NR. Gobai mengatakan keberadaan suku-suku di Papua telah memanfaatkan tumbuh-tumbuhan untuk untuk berbagai tujuan secara turun temurun, bahkan telah mengadopsi pengetahuan dari luar.

“Menurut Muller (2005), orang Papua memanfaatkan 650 jenis tumbuhan, 134 famili dan 378 genera sebagai obat, bahan tali-temali, bahan membuat perahu, bahan ukiran dan bahan makanan,”katanya kepada Cenderawasih Pos melalui telepon, usai menggelar webinar  yang Sabtu (9/10) lalu.

Menurut John, pemerintah telah mengatur dalam UU No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Dalam pasal 48 diatur bahwa salah satu penyelenggaraan upaya kesehatan adalah pelayanan kesehatan tradisional.

“Karena di Papua masih belum maksimal. Sebagai Anggota DPRP kami mengadakan kegiatan Dialog dan Koordinasi dalam bentuk Webinar bertema Perlindungan dan Pengembangan Pengobatan Tradisional di Papua,” tuturnya.

John menjelaskan, webinar  ini menghadirikan pembicara Dr.Drg.Yohanes Tebai, M.Kes mewakili  Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Brechkerts Lieske A Tukayo (Kajur Farmasi POLTEKES KEMENKES), Agus Mahuze (Tokoh Pemuda Suku Marind Marori Merauke), Made S ( Akademisi UNCEN/Penemu Obat dari Buah Merah),Prof Jim Paul Mamahit, PhD ( Pemilik Lembaga Kursus Pengobatan Tradisional Husada Oriental).

“Semua pembicara, menyarankan dilakukan identifikasi dan didokumentasikan tanaman obat di kampung kampung dalam suku masing masing, kemudian dilakukan penelitian kandungan dari tanaman obat tersebut agar diperoleh data secara ilmiah apa saja kandungan zat zat dalam tanaman atau binatang tersebut,”jelasnya.

John menyatakan, semua pembicara juga mendorong agar pemerintah mendorong adanya Rumah Obat atau klinik pengobatan Tradisional di Papua. (bet/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *