Banyak Taman Kota Disinyalir Jadi Tempat Miras

Komunitas Litter Pickers yang menggelar aksi di jantung kota, Sabtu (9/10) lalu. (GAMEL/CEPOS)

JAYAPURA – Hasil aksi muda jaga iklim yang dilakukan sejumlah komunitas lingkungan di Jayapura dengan melakukan grebek sampah mendapat kesimpulan bahwa kesadaran masyarakat untuk tertib dan bertanggungjawab dengan sampahnya masih rendah.

Tak hanya itu, dari grebek yang dilakukan disejumlah taman kota juga disinyalir bahwa banyak taman di Jayapura justru digunakan untuk pesta minuman keras. Ini dibuktikan dengan ditemukannya 546 botol minuman keras di taman – taman kota. “Ya seperti itu yang ditemukan di lapangan. Kami hanya mencoba mengumpulkan dan ternyata jumlahnya cukup banyak. Ada 546 botol minuman keras berbagai merk,” ujar Aldy Bauw dari Jayapura Litter Pickers yang menjadi koordinator kegiatan Aksi Muda Jaga Iklim yang digelar di jantung kota, Sabtu (10/10).

Dari kegiatan tersebut ada sejumlah komunitas lingkungan yang ambil bagian dan ada tiga lokasi taman yang digrebek. Ini dimulai dari Taman Imbi, Taman Gramedia dan Eks Terminal Mesran. Dengan jumlah personil sekitar 30 orang ini, terkumpul sampah sebanyak 465 Kg dengan rincian 546 botol miras dengan berat 240 Kg, botol plastic seberat 33 Kg dan campuran seberat 192 Kg dengan total 465 Kg.

Adly menyebut bahwa yang dilakukan kali ini hanya awal untuk menyatukan  visi bagi sesama komunitas lingkungan dan aksi serupa masih akan dilanjutkan pekan depan yang dilakukan mahasiswa Universitas Ottow Geisler. “Jadi aksi muda jaga iklim ini tidak hanya soal sampah tapi semua yang berdampak pada iklim. Sampah juga menjadi satu indicator lahirnya perubahan iklim maupun kritis iklim dan teman – teman di Jayapura harus bergerak, jangan diam,” jelasnya.

Astried dari Yayasan Eco Nusa juga menyampaikan bahwa aksi muda jaga iklim khusus Jayapura ini akan  dilakukan dengan 8 agenda kegiatan. Untuk puncaknya sendiri akan dipusatkan di Pantai Palong, Holtekam dengan melibatkan banyak komunitas lingkungan. Ia menyebut bahwa semangat komunitas lingkungan  di Jayapura ini tumbuh namun perlu dikoordinir. “Nantinya komunitas yang akan bicara soal dampak dari perubahan iklim dan ini awal dari semuanya,” imbuhnya. (ade)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *