Presiden Resah Soal Prestasi Atlet Indonesia

Menpora, Dr.  H. Zainudin Amali SE., M.Si., berbincang-bincang dengan Purek IV Uncen, Frederik Sokoy (kemeja putih)  dan akademisi lainnya di sela-sela seminar Design Besar Olahraga Nasional Sebagai Arus Utama Pembangunan Olahraga Nasional di rektorat Uncen, Kamis (7/10). (Gamel/Cepos)

JAYAPURA-Presiden Joko Widodo nampaknya memantau prestasi olahraga Indonesia di kancah internasional. Belum membanggakan sementara sumber daya yang dimiliki sangat melimpah.

Presiden resah dan menganggap ada yang salah dalam penanganan olahraga nasional. Iapun meminta agar managemen keolahragaan diubah dan tidak setengah  – setengah. Hal ini disampaikan Menpora, Dr.  H. Zainudin Amali SE., M.Si  dalam seminar Design Besar Olahraga Nasional Sebagai Arus Utama Pembangunan Olahraga Nasional di rektorat Uncen, Kamis (7/10).

Setelah dibuka Pembantu Rektor IV, Frederik Sokoy, Menpora Zainudin Amali langsung membeberkan soal konsep besar pembangunan olahraga nasional dimana ada sejumlah titik yang dijadikan sentral pengembangan, salah satunya di Papua melalui Uncen. Akademisi diminta untuk berkontribusi dalam project besar ini.

Presiden menurut Menpora berpendapat bahwa ada cara – cara yang selama ini dilakukan dirasa kurang tepat sehingga perlu direview total.  Presiden ketika itu meminta tata kelola, pembinaan atlet direview total dan harus tersinergikan dengan mulai dari daerah hingga pusat. Dari lembaga pendidikan umum hingga pendidikan olahraga. Lalu pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terbaru juga harus diterapkan. Jangan hanya soal sains tetapi managemen juga harus baru. Kemudian  big data analisis calon atlet berkualitas juga  harus disiapkan.

“Presiden sampaikan bahwa penduduk  Indonesia ada 270 juta lebih dan diyakini calon – calon atlet berpotensi itu ada sehingga sangat tidak masuk jika tidak berhasil ditemukan. Ada jutaan yang berbakat dan jika ada yang kurang maka yang saah adalah salah managemennya sehingga harus direview. Presiden meminta ini dirancang ulang sistem pembinaan secara besar – besaran dan beliau meminta segera dilaporkan hasilnya,” kata Menpora, Kamis (7/10).

Presiden lanjut Menpora khawatir soal pembinaan dan managemen. Sebab tak sebanding dengan sumber daya manusia yang banyak namun prestasi internasional pas – pasan. “Prestasi di olimpiade, Paralimpiade, Asean Games dan Asian Para Games dikatakan belum sebesar jumlah penduduk yang ada. Indonesia kata presiden tak kekurangan talenta, tidak kekurangan atlet atau bakat olahraga namun mengapa sulit untuk berprestasi. Ini dilihat lantaran managemen yang dijalankan hanya itu – itu saja. Tidak pernah direview total  dan ibarat mobil ini akan turun mesin berat, bukan sekedar reparasi ringan dan  Presiden merasakan itu,” beber Menpora.

Ia juga mengingatkan dalam upaya merubah managemen ini, ego masing – masing aliran itu juga perlu dikesampingkan utnuk menjadi satu kekuatan. Diakui kebiasaan lama jelang event adalah dilakukan TC (training centre) selama 6 bulan dan ini  diterapkan baik secara nasional maupun di daerah namun ternyata  banyak target tidak tercapai. Nah saat ini disepakati bahwa yang menjadi target utama adalah Olympiade sedangkan sasaran antara adalah Sea Games ataupun PON.

“Selama ini, kita masih bangga mengirim banyak atlet dalam Sea Games. Ada sekitar 400 atau 500 kontingen padahal belum tentu berprestasi,” sindir Menpora.

Zainudin juga meminta pengurus olahraga ke depan jangan kaget lagi jika ada perubahan nyata dimana  yang akan dikirim adalah atlet yang diproyeksikan bisa mendapat emas. Jadi tidak sebanyak dulu lagi. “Kecuali junior  karena harus mendapatkan jam terbang dan atmosfir,” beber Menpora.

Selain hal tersebut, setidaknya terdapat 13 permasalahan olahraga yang harus diselesaikan beberapa diantaranya ketersediaan pelatih, tingkat sekolah, masa depan atlet. “Ini yang harus direview, belum permasalahan lain seperti olahraga, organisasi, managemen, dan cabor,” tandasnya. Untuk permasalahan sekolah, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Nadiem Anwar Makarim selaku Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek). Salah satunya terkait program untuk membuat kurikulum khusus bagi atlet yang masih bersekolah. “Karena kalau kurikulum reguler, atlet akan kesulitan mengejar,” tuturnya.

Kemudian untuk permasalahan pekerjaan atlet dimasa depan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Erick Thohir selaku Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN). “Bagaimana nasib mereka saya sudah berkoordinasi dengan menteri BUMN. Managemennya akan dirapikan. Sehingga mereka dapat berkarir di BUMN sebagai pelatih,” tambahnya.

Terkait fasilitas, pihaknya berkoordinasi dengan Kementrian PUPR untuk menyiapkan tempat bagi para atlet. “Fasilitas yang lengkap dan nyaman,” ucapnya.

Selain hal tersebut juga terdapat jalan keluar mengenai permasalahan pembinaan usia dini, perkembangan wisata, perindustrian. “Tinggal kita, kapan dan seberapa besar semangat menjalankan,” pungkasnya.

Sementara itu, Uncen Jayapura juga berharap Papua bisa dijadikan satu pusat pengembangan olahraga kawasan timur Indonesia. Papua  menurut Pembantu Rektor IV, Frederik Sokoy, seperti dua sisi mata uang. Satu sisi adalah Papua dan sisi lainnya adalah olahraga. Atlet – atlet nasional ini sebisa mungkin lahir dari Papua.(ade/cr-265/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *