Kecewa, Pangansari Batal Beli Ikan Nelayan

Rudi Saragih (Robert Mboik Cepos)

SENTANI– Ribuan nelayan di Kabupaten Jayapura yang tergabung dalam beberapa kelompok nelayan perikanan tangkap, mengaku kecewa karena tidak ada kepastian dan kejelasan dari pihak Pangansari selaku pemenang tender penyedia konsumsi atau penyuplai makanan bagi para tamu dan atlet PON 2020 di Klaster Kabupaten Jayapura.

“Masyarakat nelayan kecewa.  Pangansari batalkan pengambilan ikan,”ungkap koordinator nelayan yang juga sebagai Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Jayapura,  Ir. Rudi Saragih kepada wartawan di Sentani, Kamis (7/10).

Padahal menurut Saragih, para nelayan ini sudah mempersiapkannya sejak 2 tahun yang lalu.  Dia mengatakan, pada pertengahan September Tahun 2020, pihaknya dan Pangansari sudah membicarakan mengenai pemanfaatan atau pembelian ikan nelayan di Kabupaten Jayapura.  Setelah itu, antara pihak Pangansari dengan Dinas Perikanan melakukan komunikasi dan disepakatilah bahwa dari pihak Pangansari menghendaki supaya Dinas Perikanan menyiapkan komoditi ikan seberapa saja yang ada.

“Kita buatkan penawaran melalui mitra kita,  mitra dinas, mitra nelayan melalui pihak ketiga.  Kita menunggu karena katanya itu harus membuat kontrak perjanjian,”ungkapnya.

Kemudian belakangan ini, pihak Pangansari hanya meminta 5 ton saja.  Padahal penawaran pertama sesuai kemampuan nelayan itu sebanyak 30.000 ton. Kemudian pihak nelayan terpaksa memilih membatalkan menyuplai ikan karena volume yang diambil Pangansari sangat kecil.

Kemudian dari Pangansari kembali menawarkan volumenya naik jadi 18 ton dengan harga yang sama. Namun pihaknya tidak juga mendapatkan kepastian. Meskipun mereka sudah memberikan penawaran via WhatsApp.  Bahkan pertemuan terakhir dengan pihak Pangansari juga tidak mendapatkan kejelasan.

Sementara itu, mewakili pihak Pangansari, Erwin Sudarmi mengatakan, masalah itu sebenarnya sudah dijelaskan pihaknya. Dimana untuk komoditi ikan ini disesuaikan dengan kebutuhan. Kemudian disesuaikan dengan kapasitas dapurnya. Karena itu, pihaknya sudah menyampaikan hal itu kepada kepala dinas.

“Karena kebutuhanya sedikit, beliau menolak. Beliau juga ancam, katanya mau lapor polisi,”bebernya.

Dia menambahkan, sebelumnya pihaknya menggunakan ikan lokal untuk salah satu menu masakannya, namun memang kebutuhannya tidak banyak karena harus disesuaikan dengan kebutuhan. Bahkan sudah tiga kali pihaknya memasak menu ikan, namun disarankan tidak lagi menggunakan menu ikan.

“Tiga kali itu kita pakai ikan, karena baunya tidk cocok, bahkan ibu bupati sarankan kalau bisa tidak usah pakai ikan,”tambahnya. (roy/tho)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *