Emas Panjat Tebing Dipersembahkan Buat Generasi Muda Papua

Tetih Ragil Anang Effendi berfoto bermasa medali emasnya (Foto Teti)

JAYAPURA – Papua melalui atletnya bernama Tetih Ragil Anang Effendi mendulang emas dari arena panjat tebing pada Pekan Olahraga Nasional  (PON) XX tahun 2021 di Sport Climbing Venue Mimika, Rabu (6/10).

Tetih, anggota Polri berdinas di Polresta Jayapura Kota itu mempersembahkan medali emas tersebut untuk Instistusi Polri, generasi muda papua, keluarga dan pelatih. Ia mendapatkan emas dengan total peraihan poin 5.77 di lead mix tunggal putra.

“Emas ini saya persembahkan untuk generasi muda Papua, kedepannya semoga banyak anak Papua meraih prestasi melalui olahraga panjat tebing,” ucap anggota Polri yang berpangkat Brigadir ini.

Ia berharap, kedepan banyak generasi papua terlibat dalam panjat tebing. Sepengamatannya, saat ini masih minim orang yang menyukai olahraga yang satu ini.

“Jika mengiginkan masyarakat menyukai olahraga yang ekstrim ini, maka pemerintah juga harus menyediakan fasilitas panjat tebing. Selama ini kami latihan menggunakan papan wall climbing  yang ada di Kampus Yapis,” terang Tetti saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos.

Disampaikan Teti, Papan wall climbing yang ada di Kampus Yapis saat ini sudah tidak memadai. Sehingga itu, ia berharap pemerintah Kota Jayapura atau Provinsi Papua bisa membangun fasilitas panjat tebing di Kota Jayapura. Dengan harapan kedepan muncul atlit panjat tebing berprestasi dari wilayah timur Indonesia untuk dunia.

Sebelum bertanding di PON Papua, Teti mengikuti TC dua tahun di luar Papua. Setahun di Solo dan satu tahun di Jakarta. Hingga sebulan yang lalu ia balik ke Papua tepatnya di Mimika untuk tes medan.

Semasa ikut TC, Teti mendapatkan ijin dari satuannya termasuk keluarga. Bahkan, keluarga begitu mendukung atas apa yang dipihnya.

“Dukungan dari Polri terkait ijin tidak ada masalah, begitu juga dengan keluarga dukungan mereka terus mengalir kepada saya, mereka fine saja,” kata Teti.

Antara latihan dan dinas di satuannya, Teti pandai dalam membagi waktu. Bahkan, terkadang ia menyuri waktu untuk latihan. Jika di kantor tidak ada kegiatan, sore harinya ia ke Kampus Yapis untuk latihan.

“Saya latihan di papan wall climbing Kampus Yapis sebelum direkomendasi untuk full TC ke luar,” terang pria yang pernah mendapat juara 2 saat Kejurnas Open Tournament di Bandung.

Ia berharap, kedepannya panjat tebing lebih berkembang di wilayah timur terutama di Papua. Karena untuk wilayah timur hanya Papua yang panjat tebingnya tertinggal, apalagi saat seleksi  Prapon Zona II wilayah timur dalam hal ini Papua yang tertinggal. (fia/gin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *