Anak Jalanan dari Kabupaten Pemekaran Bertambah

Anak-anak jalanan yang dihimpun Kodim 1702/ Jayawijaya untuk melakukan kegiatan kerja Bakti di TMP Senin (4/10) lalu. (Denny/ Cepos)

WAMENA– Ketua Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Elius Tabuni mengungkapkan bahwa saat ini di Wamena ada pertambahan jumlah anak jalanan, terutama anak yang suka menghirup lem Aibon di pinggiran jalan. Menurutnya, mereka ini sebenarnya bukan dari Jayawijaya tetapi dari Kabupaten pemekaran yang datang bergabung di Wamena.

   “Tentu masalah ini juga harus diperhatikan oleh pemerintah daerah tidak hanya Jayawijaya tetapi kabupaten pemekaran juga harus mengambil bagian, bagaimana bisa melakukan penangangan terhadap mereka,” ungkapnya kepada Cenderawasih Pos via selulernya, Kamis (7/10).

   Ia menyatakan ironisnya saat ini sudah ada kelompok–kelompok anak jalanan yang ada di Kota Wamena, yang tersebar di beberapa tempat keramaian seperti di Pasar Jibama, Potikelek,  pusat Niaga Jalan Irian  dan beberapa tempat lagi, sehingga masalah ini tidak bisa dibiarkan terus menerus tetapi  harus ada penanganan.

   “Memang dalam pandangan fraksi dalam sidang Perubahan, kita belum masukan pokok pikiran ini, namun dalam pembahasan APBD Induk 2022 nanti kita akan coba mengangkat masalah ini kepada pemerintah Jayawijaya dulu,” jelas Elius Tabuni.

   Ia juga menyampaikan bahwa masalah anak jalanan ini tidak bisa hanya menjadi tanggungjawab Pemda Jayawijaya saja. Oleh karena itu, koordinasi antar kabupaten di wilayah Lapago ini sangat dibutuhkan untuk mengambil satu langkah bersama dalam penanganan masalah anak –anak jalanan yang kian terus bertambah.

  “Kami ingin mendorong kepada Pemda Jayayawijaya untuk melakukan koordinasi dengan teman –teman dari Kabupaten Pemekaran sehingga  secara bersama –sama kita lakukan penanganan terhadap mereka karen mereka ini anak –anak kita, adik kita generasi penerus kita,”tegas Elius.

   Ia juga mengimbau kepada pengusaha toko yang memperjualbelikan lem aibon, castol dan lain –lain secara bebas kepada anak –anak, seharusnya mereka juga membatasi siapa saja yang bisa membeli itu. Tidak bisa dikasih sembarangan dan hanya bisa digunakan sesuai peruntukannya.

   “Lem Aibon, castol dan lain –lain sebenarnya untuk perekat, tetapi disalahgunakan untuk dihirup, dan kebanyakan yang menggunakan lem ini adalah anak –anak yang di bawah umur yang salahgunakan,”bebernya.(jo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *