Siapa Rebut Hati Orang Papua, Dia yang Berpeluang Duduki RI 1

Ridwan Kamil mengunjungi Kampung Yoboi, Kabupaten Jayapura  di sela-sela menghadiri pembukaan PON XX

Ganjar Pranowo ketika bercengkrama dengan shine of black di Jayapura.

*RK Disambut, Tapi Tak Semeriah Ganjar Pranowo

JAYAPURA – Pada pembukaan PON XX 2 Oktober lalu terlihat sejumlah tokoh nasional berdatangan ke Papua. Ada yang berstatus sebagai menteri ada  guberur, wakil gubernur termasuk anggota dan pimpinan DPR RI.

Meski semua datang ke Papua dengan tujuan menghadiri PON namun hal lain yang sangat memungkinkan adalah menanamkan jejaring untuk Pilpres tahun 2024 mendatang. Sulit rasanya jika hanya datang tanpa tujuan untuk kepentingan ke depan.

  Secara angka penduduk, jumlah    pemilih di Papua memang sangat kecil. Jika dibanding dengan kota – kota besar, angka 4 juta jiwa  mungkin hanya untuk warga kecamatan.  Namun Papua dikatakan tetap akan menjual dan menjadi satu kunci masuk untuk memenangkan Pilpres 2024.

Bahkan menurut akademisi Uncen, Marinus Yaung, siapa yang bisa memenangkan hati orang Papua maka ia yang akan maju sebagai Capres. “Saya pikir kita tidak bisa mengelak dari pertimbangan dan analisa politik kearah itu. Bahwa di Papua bukan isu nasional lagi tapi sudah isu internasional dan muaranya akan kesana (Pilpres),” kata Marinus Taung, Selasa (6/10) kemarin.

Ia menyebut beberapa tokoh yang hadir   ke Papua seperti Ridwan Kamil (RK) atau Kang Emil Gubernur Jawa Barat, Ganjar Pranowo Gubernur Jawa Tengah, serta Erick Tohir Menteri BUMN,  Tris Rismaharini Menteri Sosial  dan Airlangga Hartarto serta beberapa tokoh lainnya  terang – terangan tampil di depan publik Papua.

Ada yang melakukan agenda formil, ada yang blusukan hingga ke kampung – kampung dan ada juga yang lebih banyak bermain di kota.  Menurut Marinus jika hanya dikaitkan dengan jumlah pemilih maka di Papua sangat kecil. Papua bukan lumbung suara karena hanya 4 juta penduduk. Ini berbeda dengan Jawa Barat yang penduduknya mencapai 52 juta pemilih dan itu terbesar se Indonesia.

Hanya saja nilai plus Papua kata Yaung adalah Papua bisa menjadi target politik pencitraan guna mendapatkan mendapatkan popularitas, diterima, dan disenangi oleh masyarakat Indonesia dan komunitas  satu kemungkinan Papua memang harus digarap. “Sebab siapa yang bisa merebut hati orang Papua. Dia punya peluang untuk menduduki kursi 2024. Ini lantaran Papua  sudah bukan lagi berbicara tataran pemilik lokal melainkan berbicara disintegrasi bangsa. Persoalan menguatnya gerakan sparatis papua yang ingin memisahkan diri dari Indonesia,” tambah Yaung.

Karenanya siapapun tokoh yang akan maju di tahun 2024 adalah siapa yang bisa mengintegrasikan kembali Indonesia dan menjaga persatuan indonesia. Merawat Papua menjadi kunci untuk merebut pemilih nasional bahkan bisa mendapat simpati internasional. “Lalu semua tokoh yang datang ke Papua mendapat penilaian tersendiri dari Presiden Jokowi. Siapa yang mampu merebut hati orang papua dialah yang nantinya akan didukung secara moral dan politik untuk maju ke tahun 2024,” bebernya.

Lanjut dosen Fisip Uncen ini perjuangan Presiden Jokowi untuk membangun Papua membutuhkan waktu yang panjang dan paling tidak ini nantinya akan diteruskan oleh pemimpin yang punya hati yang sama.

Ketika Presiden memerintahkan para menteri dan gubernurnya untuk datang maka kegiatan kunjungan beberapa tokoh ke tanah Papua ini sedang dalam monitor Jokowi. Itu terutama pejabat siapa yang memiliki prestasi kerja. Semua masuk dalam penilaian akhir presiden dan pusat. “Siapa gubernur siapa calon pemimpin nasional yang saat ini bisa memulihkan dan merebut hati orang Papua untuk memulihkan kembali hubungan Papua – Jakarta  maka itu yang nantinya akan dilirik,” ulasnya.

“Saya lihat saat ini yang mendapat sambutan hangat di Papua masih pak Ganjar Pranowo. Ridwan Kamil memang disambut, tapi tidak semenarik Ganjar  dan banyak orang  Papua yang membicarakan peluang beliau sebagai kandidat 2024 untuk menggantikan presiden jokowi. “Ini juga bisa mendapat sorotan dari komunitas internasional baik yang ada di pasifik maupun dari komunitas intelektual. Jadi siapa yang datang ke Papua dia sedang berada di bawah sinar terang dari komunitas internasional terkait isu Papua,” pungkasnya. (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *