Sebagai Ajang Silaturahmi dengan Petani Anggrek

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo berfoto bersama dengan anggota DPC PAI pada Seminar Papua Orchid Show di Pantai Holtekamp pada Sabtu (2/9) lalu. (AYU/CEPOS)

JAYAPURA – Selain PON XX, masyarakat Kota Jayapura juga dengan berbagai festival, termasuk festival Anggrek atau Papua Orchid Show yang bertajuk Mari Lestarikan Angrek Spesies Papua yang digelar di Pantai Holtekamp.

Papua Orchid Show ini diikuti 42 peserta baik dari DPD Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI), DPC PAI, organisasi pecinta anggrek dari se Indonesia.

Ketua panitia Adolina Menanty menyampaikan bahwa even ini sebenarnya dilaksanakan tiap tahun, namun karena tahun lalu masih dalam suasan pandemi Covid-19 maka ditunda ke tahun ini.

Tujuan dan sasaran dari kegiatan ini selain memasyarakatkan anggrek alam maupun anggrek silangan, juga memberikan motivasi kepada petani untuk lebih kreatif dan produktif, mendorong upaya pelestarian anggrek alam yang sudah mulai langka, mengajak masyarakat untuk mencintai anggrek spesies Papua, serta memperkenalkan kepada masyarakat, sekaligus merupakan, ajang pertemuan petani anggrek, petani tanaman hias, pengusaha anggrek, pakar anggrek dan pecinta anggrek.

Dirinya mengungkapkan dari sekian ribu spesies anggrek yang ada di Indonesia lebih dari setengahnya berada di Papua sehingga harus dikenali oleh masyarakat luas. “Dengan adanya pameran, kami akan membangun tali silaturahmi, antara petani anggrek, pengusaha anggrek, pecinta. Bagus juga untuk meningkatkan ekonomi.” Ujarnya.

Idha Sadi Reyaan salah satu peserta dari stand Jayawijaya, Wamena menghadirkan 11 spesies anggrek antara lain yang khas adalah Dendrobium Alexandrae, Paphiopedilum Welhelmina (seperti kantung semar), Dendrobim Vilister asli Wamena, Phreatia SP atau Anggrek padi yang tumbuh di tanah, Obol bon, Pandang bellium yang terlihat unik seperti bunga gladior dan di dalamnya seperti ada anak tikus. Tanaman ini Asli dari Jayawijaya Wamena.

“Kalau tanaman anggrek khusus dari Jayawijaya kadang kalau di hutan ada, tumbuh saja. Diatas batu melekat di kayu. Tapi kalau kita rawat dirumah, seperti biasanya kalau kita petani sederhana bisa siram saja setiap minggu 2 kali atau 3 kali kalau cuaca terlalu panas kita beri vitamin dari air beras. Mungkin 2 minggu sekali.” Ujarnya.

Namun selama 7 hari di stand nantinya dirinya tidak menggunakan air beras. “Nanti kami siram setiap sore semua. Nanti malamnya kami semprot dengan vitamin B1.” Ujarnya.

Rata-rata harga anggrek di stand Jayawijaya Wamena sekitar Rp150.000 hingga Rp250.000. Tanaman unik yang dimiliki adalah anggrek Dendrobin Vinistre dan Wahelmina yang berada di ketinggian 18 ribu kaki diatas permukaan laut.

Stand Jayawijaya pada event kali ini mendapat Juara pertama, unggul pada tanaman vinestre. Adapula dari Tolikara, yang mendapat The Best of Spesies, juara 1 dengan kategori tanaman terkecil. Karena hanya 12 cm sudah berbunga. (cr-265/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *