Eka Nusa Pertiwi: Biarkan Kami Mati dengan Tersenyum

GAMEL/CEPOS Salah satu peragaan teater yang akan dimainkan dalam pembukaan festival anggrek nasional di Teluk Yotefa hari ini, Sabtu (2/10)

JAYAPURA – Opening Festival Anggrek di Jayapura rencananya hari ini (Sabtu, 2/10) bakal dibuka. Ada banyak jenis pohon/ bunga anggrek yang akan dipamerkan. Kegiatan festival ini juga diyakini lebih berbobot karena diisi oleh beberapa kegiatan lainnya, salah satunya teater. Sebuah drama tentang anak – anak Papua yang memiliki kekayaan alam namun perlahan – lahan dengan kemajuan jaman membuat kekayaan ini perlahan hilang. Teater ini akan menyentil masyarakat secara umum untuk bisa ikut menjaga apa yang menjadi kebanggaan mereka di Papua.
“Ini penampilan perdana kami dari Orchid Theater Production yang dinaungi oleh KSBN Papua dalam acara festival anggrek nasional 2021 dan teater ini cukup sederhana namun harapan kami ini bisa menjadi nutrisi dan vitamin untuk pengalaman berpikir dan merasakan. Kami mencoba untuk merefleksikan apa yang telah kami punya. Sumber daya alam yang kaya dan sumber daya manusia yang menjaganya,” kata Eka Nusa Pertiwi, sang sutradara teater. Eka sendiri baru 2 minggu di Jayapura dan telah memberikan work shop dan kini memulai dengan penampilan perdana. Eka menceritakan soal sinopsis yang dibawakan yakni adanya anak – anak muda Papua yang bergegas pulang ke kampung di pedalaman Papua yang merupakan tempat hidup sesungguhnya.
“Kami makan dari apa yang kami tanam, kami ambil apa yang kami butuhkan, kami rawat tanaman yang tumbuh subur di desa tanah kami. Kami hirup udara segar dari oksigen yang di olah oleh tanaman yang kami rawat. Kami minum dan mandi dari air yang jernih di pegunungan yang ada di desa kami,” itu salah satu pesan dari teater tersebut. Ia menyampaikan pesan lainnya adalah anak – anak muda Papua ini tidak menolak modernisasi yang belum pasti membuat mereka bahagia. Mereka tetap harus menerima dan harus merasakan kebahagiaan. “Kami harus bahagia melihat anak kami satu persatu pergi dan melupakan tanah tempat tinggal kami. Kami hanya ingin mati dengan tersenyum melihat anak cucu kami yang juga tersenyum sambil berkumpul menikmati apa yang kami rawat. Kami ingin mati sambil tersenyum dengan tenang. Kira – kira itu pesan kuat yang ingin disampaikan,” imbuhnya. (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *