Para Pelaku Belum Hadir, Penyelesaian Keluarga Dilanjutkan Hari ini   

Pertemuan antara Kepsek SMAN I Merauke dan SMK Santo Antonius Merauke yang dihadiri para orang tua korban dan pelaku serta Komite Sekolah SMAN I Merauke dan dari Polres Merauke, Senin (27/9). Hanya saja pertemuan ini   belum tuntas dan akan dilanjutkan pagi ini.    (Sulo/Cepos)

MERAUKE-Pihak  SMAN I Merauke dan SMK Santo Antonius Merauke  melakukan pertemuan penyelesaian terkait dengan masalah antara siswa SMK Santo Antonius Merauke dengan SMAN I Merauke beberapa hari lalu. Pertemuan  kedua belah pihak ini dihadiri oleh   Kepsek SMAN I Merauke Sergius Womsiwor, S.Pd , M.Pd dan Kepsek SMK Sanyo Antonius Merauke Hoppy Setyawan, S.Pd, M.Pd dan  sejumlah guru dari kedua belah pihak.

   Selain itu, hadir pula korban dan orang tua  korban dan orang tua pelaku. Namun dari pertemuan tersebut  belum tuntas dan harus dilanjutkan hari ini, Selasa (27/9), karena  para pelaku penganiayaan  belum hadir  dalam pertemuan tersebut.

   Ketua Komite SMAN I Merauke  Heribertus Silibun yang juga bertindak sebagai keluarga korban mengungkapkan bahwa sebagai keluarga  korban hanya meminta pertanggungjawaban dari pihak pelaku bagaimana tanggungjawab  dari para keluarga  korban, sehingga baik sebagai orang tua maupun sebagai pelaku  harus dihadirkan  agar permasalahan  yang terjadi dapat diselesaikan secara kekeluargaan.

    “Keluarga korban meminta supaya baik yang memalak dan yang memukul harus dihadirkan semua untuk dilakukan pertemuan,” kata Heribertus Silubun.

   Atas permintaan tersebut, Kepsek  SMAN I Merauke Sergius Womsiwor  juga meminta anak-anak SMK Santo Antonius yang datang menyerang SMAN I Merauke untuk dihadirkan  juga sehingga permasalahan yang terjadi dapat diselesaikan secara tuntas.

   Kepsek SMK Santo Antonius Hoppy  Setyawan menyatakan akan menghadirkan siswa-siswa yang dimaksud. “Kita akan hadirkan semua sehingga masalah  ini bisa tuntas dan masing-masing evaluasi diri untuk masa mendatang, sehingga kejadian tersebtu tidak teruang kedua kalinya. Karena semua itu anak didik kita semua, hanya sekolahnya yang berbeda, sehingga kita  tidak perlu saling menyalahkan satu dengan yang lainnya,” pungkasnya. (ulo/tri)   

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *