Mulai Marak Pembabatan, Pemerintah Diminta Menegur

Lokasi baru yang dibabat untuk dijadikan kebun oleh warga disekitar lokasi. Saat ini disepanjang jalur Alternatif banyak titik – titik pembukaan lahan baru untuk kebun meski di lokasi yang tak diperbolehkan ada aktifitas perkebunan. Foto diambil Kamis (23/9). ((Gamel Cepos))

JAYAPURA – Disaat pemerintah semuanya focus mensukseskan PON ke XX ternyata ada pihak – pihak yang mengambil kesempatan dengan membersihkan lokasi lereng untuk ditanami meski sejatinya lokasi tersebut harus dipastikan ditumbuhi pohon untuk mengikat tanah. Hanya saja disepanjang jalan alternative dari Kantor Wali Kota menuju Perumnas III Waena mulai terlihat sejumlah titik aktifitas pembukaan lahan yang dilakukan oleh warga sekitar  untuk ditanami. Bahkan tak tanggung – tanggung di lokasi tersebut juga dibuatkan pondok untuk tempat tinggal.

Kondisi ini jika terbiar dipastikan akan terus melebar  seperti yang sering terjadi selama ini. Pemerintah lewat dinas terkait diminta tidak melupakan adanya upaya – upaya pembukaan lahan di lokasi yang tak seharusnya. “Ini kami merasa  aneh karena tempat dibukanya kebun baru ini persis di pinggir jalan tapi kok tidak terhentikan ya. Apakah ini tidak terlihat,” beber Gunawan, salah satu pegiat social di Jayapura. Ia mengaku miris karena setiap sore di sekitar jalur alternative pasti ada asap dan lokasi baru yang dibuka. Ia berharap jangan terjadi musibah baru pemerintah ikut berbicara. “Kalau memang itu  kepunyaan masyarakat adat lewat hak ulayatnya ya bisa dipanggil untuk diingatkan sebab setahu saya sepanjang jalan aternatif itu selain kebun baru banyak juga bangunan baru yang illegal. Jika tetap dibiarkan nantinya justru menyulitkan pemerintah untuk menertibkan, saya yakin itu,” bebernya.

Lokasi bukaan lahan kebun baru ini persis di pinggir jalan sebelum jembatan besi. Seluruh pohon dan ilalang dibersihkan kemudian dibakar dan siap ditanami. Ini belum di lokasi setelah jembatan yang nampanya akan dibuka lagi. “Sekali lagi kalau terus dibiarkan maka ini akan semakin menjadi sehingga saya pikir harus cepat. Mereka – mereka (petani liar) ini tidak punya lahan jadi kawasan yang bukan miliknya atau berada di lereng juga kadang dipakai. Itu belum  dengan  pohon – pohon yang ditebang kemudian dibelah, dijemur dan dijual untuk kayu bakar. Itu semua pohon hidup, bukan pohon kecing,” singgung Gunawan.

Senada disampaikan salah satu warga bernama Ronie yang melihat bahwa selain di jalan alternative, kawasan Kampwolker dan Kotaraja Dalam di bagian atas juga mulai banyak dibuka pondok atau rumah – rumah yang diyakini tak memiliki surat – surat. “Kios atau lapak – lapak kecil juga mulai ramai. Pak Wali Kota dulu pernah bilang disepanjang jalan itu (Alternatif) tak boleh ada bangunan tapi nyatanya?,” sindirnya. (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *