Sang Kakak Pertanyakan Dimana Pegiat HAM

Proses ibadah terakhir saat proses pemakaman almarhumah Gabriella Meilani di TPU Tanah Hitam, Abepura, Rabu (22/9) kemarin. Pihak keluarga pertanyakan dimana pegiat HAM. (Gamel/Cepos)

JAYAPURA – Suasana duka nyata terlihat dalam proses pemakaman jenazah Gabriella Meilani. Alumni Poltekes Padang Bulan Jayapura ini gugur di daerah lereng jurang di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang setelah sebelumnya dikejar oleh kelompok TPN-OPM.
Jenazah Gabriella sendiri akhirnya, Selasa (22/9) berhasil dievakuasi dan dibawa ke Jayapura. Banyak respon dari kejadian ini dimana rekan sejawat maupun organisasi kesehatan dan medis menyatakan rasa belasungkawa yang dalam. Ratusan tenaga medis juga berkumpul di Taman Imbi sambil menyalayan 1.000 lilin sebagai bentuk solidaritas sesama pekerja medis, Selasa (22/9) malam.
Tah hanya itu di Tongkonan Kotaraja atau rumah adat bagi masyarakat suku Toraja dipenuhi 1.000 lebih masyarakat asal Toraja yang menaruh simpati serta mengutuk tindakan tidak manusiawi tersebut. Ini berlanjut di rumah duka tempat dimana kedua orang tua almarhum tinggal di Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura. Ada ratusan orang berkumpul untuk melihat dan melepas almarhumah sebelum dimakamkan.
Sebelumnya sang ibu, Martina Rinding meminta agar jasad sang anak segera dievakuasi. Bagaimanapun caranya jenazah sang anak harus segera diambil. “Tolong, tolong, tolong.. kami terlalu lelah, terlalu sakit, tolong jenazah anak kami dievakuasi dan dibawa ke sini (rumahnya),” ujar Martina kepada wartawan.
Ia sendiri tak memiliki firasat tertentu, sebab komunikasi dengan sang anak cukup lancar. Sang kakak bernama Irawan Setio Putra juga sangat terpukul. Ia justru mengkritisi para tokoh yang selama ini berbicara soal HAM. Namun disaat kejadian yang menimpa adiknya yang notabene warga sipil dan pekerja kemanusiaan, semua malah diam dan tidak muncul.
“Selama ini mereka (pegiat HAM) selalu berbicara tentang HAM, HAM dan HAM. Kasus sedikit saja langsung muncul dan bicara HAM lalu dengan kejadian yang menimpa adik saya ini apa tanggapan mereka yang biasa bicara HAM. Kami keluarga mempertanyakan itu,” sindirnya.
Ketua Ikatan Keluarga Toraja (IKT) Provinsi Papua, Edi Rante Tasak menyampaikan dalam ibadah sidang jemaat gabungan bahwa kejadian kekerasan bersenjata hingga menewaskan warga Toraja ini sudah kesekian kali dan bukan hal baru. Di depan jenazah almarhumah Gabriella Meilani, ia menyampaikan bahwa ini peristiwa yang kesekian kalinya terjadi kepada orang Toraja dan mereka sangat terluka. Pasalnya perbuatan yang dilakukan sangat tidak manusiawi dan sangat sadis. “Saya mengutuk dengan keras perbuatan yang dilakukan,” bebernya.
Ia menceritakan bahwa orang Toraja sejak tahun 1960-an sudah bekerja dan mengabdi bersama masyarakat asli di Papua dan itu sudah dianggap sebagai keluarga sendiri. Cerita keharmonisan ini sudah berjalan sangat lama namun mengapa hari itu diusik dengan perilaku seperti itu. Dari kehidupan yang sama – sama harmonis tapi kini situasi tersebut dirusak.
Di hadapan Bupati Pegunungan Bintang, Edi Rante Tasak juga mempertanyakan bahwa jika saat penerimaan jenazah pemerintah Pegubin menyebut jika almarhumah gugur dalam tugas. Namun Edi membuka beberapa litelatur ternyata sebutan gugur ini hanya digunakan oleh mereka yang bersenjata dan sedang berhadap-hadapan kemudian terjadi kontak tembak.
“Tapi kalau kita melihat Peraturan Kapolri Nomor 22 tahun 2007 tentang tata cara pemberian status kematian bagi anggota TNI-Polri disebut sebutan itu diberikan jika itu terjadi kontak senjata. Lalu bagaimana sipil bisa disebut sebagai orang yang gugur? Dan kami mempertanyakan itu. Saya mempertanyakan kepada pemda Pegunungan Bintang karena pernyataan dengan sebutan gugur ini harus bisa dipertanggungjawabkan,” cecarnya.
Edi mempertanyakan apakah almarhum gugur dalam tugas dengan bersenjata sebab pernyataan tersebut atau status itu akan berdampak dan berkonsekwensi. “Ini kami pertanyakan,” tambah Edi. Lalu sebagai Ketum IKT, ia juga berharap semua warga IKT lebih banyak berdoa, jangan terlalu egois mementingkan diri sendiri karena jika ditarik jauh ke belakang, banyak orang – orang tua yang dulu bisa hidup mesra dan berdampingan dengan penduduk yang lain tanpa ada ketakutan. Tapi kenapa 10 tahun terakhir justru seperti hidup dalam ketakutan.
“Kemarin kami duduk dengan ketua KKSS dan kami hitung warga nusantara yang tewas selama ini dan ternyata berjumlah 177 orang. Ini angka yang tidak sedikit dan sebagian besar justru masyarakat Toraja,” bebernya.
Iapun meminta semua mawas diri, jangan takabur, dan jangan merasa lebih hebat. Perlu perlu saling menghormati. “Saya juga mau sampaikan ke Pemerintah Provinsi Papua dan semua kabupaten, kami warga sipil yang ada di Papua, tidak terlibat dalam politik apapun apalagi politik merdeka. Kami sipil biasa yang mengabdi untuk tanah ini sehingga salah jika kami dijadikan tumbal untuk satu perjuangan. Salah jika kami masyarakat sipil dijadikan tameng untuk suatu niat yang tidak jelas,” tegasnya.
Karenanya Edi menyatakan apabila Pemprov dan Pemkab tak bisa memberi jaminan keamanan bagi pekerja – pekerja di kabupaten/kota di manapun sebaiknya semua ditarik ke kota. “Dari kejadian ini kami dari IKT sangat berduka, jangan terulang lagi dan dan biar sejarah tercatat dalam lubuk hati kami,” imbuhnya.
Sementara jenazah Gabriella sendiri akhirnya dimakamkan di TPU Tanah Hitam degan diantar ratusan orang. Tak hanya dari IKT tetapi juga petugas nakes. Jenasah yang tiba pukul 16.46 WIT ini langsung disembahyangkan, dibacakan doa kemudian dimakamkan. (ade/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *