Banyak Sampah, Makam Tanah Hitam Terlihat Kumuh

Tumpukan sampah plastic yang berserakan di lokasi pemakaman TPU Tanah Hitam, Abepura yang membuat tak nyaman dipandang. Selain sampah, banyak bangunan makam yang tak seragam membuat lokasi ini seperti semerawut, tak beraturan. Foto diambil, Rabu (22/9). ((Gamel Cepos))

JAYAPURA – Lokasi pemakaman umum di Tanah Hitam Distrik Abepura meski memiliki petugas pemakaman tak lantas membuat lokasi ini terasa nyaman. Banyaknya warga yang berkunjung dan membawa berbagai macam barang mulai dari bunga, air minum, makanan ringan membuat lokasi ini banyak dipenuhi sampah. Ini belum lagi dengan banyaknya papan atau krans ucapan duka yang ikut dibawa serta kemudian ditumpuk begitu saja membuat lokasi makam terlihat tidak beraturan. Banyak sampah yang berserakan ditambah dengan kayu atau tiang – tiang yang digunakan untuk memasang atap tenda memberi kesan lokasi ini kumuh.
“Banyak sekali sampah, dari tiap jarak makam ke makam pasti ada sampah dan ini jelas membuat pengunjung tak nyaman. Hanya sama sampah – sampah ini justru dibawa oleh pengunjung dan ditinggalkan begitu saja akhirnya berminggu – minggu, berbulan – bulan terbiar begitu saja,” jelas Ezter salah satu pengunjung lokasi makam, Rabu (22/9). Pasalnya Ezter melihat di lokasi ini juga tidak jelas apakah ada tempat sampat sentralnya atau tidak. Yang ia lihat hanya lubang – lubang kecil yang dijadikan tempat untuk menumpuk sampah kemudian dibakar seadanya. “Mereka bakar juga tidak tuntas, masih banyak yang berserakan dan tertiup angin. Yang jelas disini banyak sampah berserakan dan kami tidak nyaman melihatnya,” beber Ezter.
Senada disampaikan seorang pengunjung lainnya bernama Fendi. Ia menyebut yang paling banyak terlihat adalah sampah plastic. Ia juga menyinggung soal lokasi yang sempat dikabarkan akan diseragamkan ternyata tidak. “Yang saya tahu di lokasi baru ini dulunya sempat mau dibuat seragam. Artinya semua makam sama dan dibuat lebih banyak rumput, tapi yang saya lihat tidak ada makam yang seragam. Semua dengan maunya sendiri sehingga kesannya yang punya uang itu yang paling bagus. Ini justru terlihat kurang bagus karena bentuknya sesukanya,” sindir Fendi. “Bahkan ada makam yang besar sekali, apakah ini biayanya sama atau berbeda. Ini akhirnya menyinggung persoalan social masyarakat juga karena bagi yang tidak mampu ya makamnya pasti sangat sederhana sedangkan yang mampu makamnya dipakaikan keramik, dipagari dan lainnya. Bagaimana mau seragam kalau begini,” imbuhnya. (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *