Kedatangan Jenazah Suster Ella Disambut Isak Tangis

Dua anak usia dini didampingi orang tuanya ikut menyalakan lilin dalam aksi solidaritas organisasi profesi tenaga kesehatan di Papua yang digelar di Taman Imbi, Jayapura, Selasa (21/9). (Gamel/Cepos)

Aksi bakar lilin yang dilakukan organisasi profesi tenaga kesehatan di Provinsi Papua di Taman Imbi, Selasa (21/9) malam. (Elfira/Cepos)

JAYAPURA-Isak tangis keluarga suster Gabriella pecah ketika helikopter Penerbad yang membawa jenazah perempuan 22 tahun itu mendarat di Lapangan Frans Kaisepo Makodam XVII/Cenderawasih, Rabu (21/9) kemarin.

Gabriella dievakuasi bersamaan dengan jenazah anggota TNI bernama Pratu Ida Bagus yang gugur dalam kontak tembak dengan anggota Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) pimpinan Lamek Taplo di Ditrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan, Selasa (21/9).

“Ella…., Ella…..” begitu keluarga memanggil-manggil jenazah suster Ella ketika helikopter mendarat disertai tangisan.

Orang tua Ella yang terus memeluk foto anaknya tak kuasa menahan tangis, hingga keluarga satu persatu menguatkan ibu dari almarhumah Gabriella itu. Bahkan, ketika mobil ambulance yang membawa jenazah Ella ke RS Marthen Indey, keluarga tak henti hentinya memanggil nama Ella sapaan dari suster Gabriella.

Saat proses evakuasi jenazah Gabriella dari kiwirok mendarat di lapangan Frans Kaisepo, wartawan dilarang mengambil gambar bahkan dilarang mendekat ke arah lapangan.

Usai dievakuasi dari Kiwirok, jenazah auster Gabriella dibersihkan di RS Marthen Indey. Satu persatu keluarga dan kerabat serta rekan termasuk mahasiswa Poltekes Jayapura memadati RS Marthen Indey untuk melihat jenazah suster Gabriella untuk terakhir kalinya sebelum dimakamkan, Rabu (22/9) hari ini. Saat ini, jenazah sudah berada di rumah duka di Expo Waena.

Sementara itu, mengenang kepergian Gabriella yang meninggal akibat dianiaya di Kiwirok pada Senin (13/9) lalu, organisasi profesi tenaga kesehatan di Provinsi Papua melakukan aksi solidaritas bakar lilin di Taman Imbi, Selasa (21/9) malam.

Aksi bakar lilin ini dihadiri sekira 1.000 nakes, bacaan puisi hingga doa bersama mengenang kepergian suster Gabriella yang dikenal teramat baik. Para Nakes juga menyampaikan deklarasinya yang dibacakan oleh Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Provinsi Papua, Isak T.

Ada empat poin dalam deklarasi yang dibacakan Isak yakni, yang pertama keprihatinan atas terjadinya aksi kekerasan  yang menyebabkan kematian serta trauma psikolog yang dialami oleh nakes di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang.

Kedua, menolak setiap tindakan kekerasan terhadap tenaga kesehatan yang dilakukan oleh pihak yang mengatasnamakan apapun. Ketiga, meminta jaminan keamanan seluruh nakes yang mengabdi di Provinsi Papua terutama di daerah rawan konflik.

Keempat, mendorong adanya kebijakan perekrutan dan penempatan sumber daya tenaga kesehatan yang berpihak kepada masyarakat dan budaya setempat.

“Keempat poin deklarasi akan kami teruskan kepada pemangku jabatan baik kepada Gubernur Papua maupun Kementrian Kesehatan,”  kata Isak.

Sementara itu, tokoh agama Pdt. Jhon Baransano mengecam peristiwa Kiwirok. “Kami mengecam  kekerasan dalam bentuk apapun terhadap tenaga medis. Karena pengabdian mereka tanpa batas. Berbagai konflik di tanah Papua apapun bentukmya mereka harus dihargai, karena mereka bekerja tanpa kepentingan,” tegas Pdt Baransano kepada Cenderawasih Pos.

Ia meminta semua pihak menghargai tenaga medis yang selalu setia bekerja untuk melayani masyarakat yang ada di tanah Papua.

“Persoalan ini hraus diselesaikan, dibuka secara terang benderang. Sehingag semua pihak belajar dari peristiwa ini bahwa kekerasan di tanah  Papua harus dihentikan dalam bentuk apapun, dan menghargai tenaga medis yang hari ini mereka meninggal dengan cara-cara kekerasan seperti ini,” sesalnya.

Sebagai hamba Tuhan, Pdt. Baransano menyesalkan dan mengutuk keras tindakan seperti ini oleh siapapun juga oknumnya. “Jangan ada Gabriella lain yang menjadi korban karena  berbagai kepentingan di atas tanah Papua,” tegasnya.

Pdt. Baransano berharap pemerintah bisa menyelesaikan masalah ini, mengungkap kasus dan mencari pelakunya untuk memberi efek jera kepada mereka serta mempertanggungjawabkan atas apa yang dilakukan.

“Gabriella, perawat di pedalaman papua yang meninggal dunia dengan cara yang tidak wajar menunjukan kemanusiaan di papua sangat buruk. Persoalan pelanggaran kekerasan kerap terjadi di tanah Papua dan ini menjadi catatan penting bagi kita. Hentikan kekerasan di tanah Papua,” tutupnya.

Di tempat yang sama, koordinadir aksi, Marthen Sege, S.Kep. Ns., mengatakan, kegiatan ini diinisiasi oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) dengan mengundang sejumlah  organisasi nakes di antaranya Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Ikatan Apoteker Indonesia (IAI),  Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Ikatan  Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi), Persatuan Ahli Teknologi Laboratorium Medik Indonesia (Patelki)  dan Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI).

“Ini bagian dari solidaritas organisasi profesi tenaga kesehatan di Papua, untuk merespon tragedi Kiwirok,” kata Marthen Sege.

“Satu poin yang perlu diperhatikan pemerintah adalah bagamana melakukan perekrutan dan menempatkan sumber daya manusia di bidang kesehatan yang memang berpihak dan memahami budaya setempat,” kata Marthen Sege. Jika dikonkritkan kalimat ini bisa diartikan bahwa akan lebih baik pemerintah  memberdayakan putera puteri daerah setempat untuk mendalami ilmu keperawatan atau tenaga kesehatan lainnya kemudian mengabdi di daerahnya masing – masing. Para nakes berharap tak ada lagi tragedi kemanusiaan yang melibatkan para pejuang kesehatan mengingat selama ini banyak nakes yang bekerja karena panggilan hati.

Didasari rasa ikhlas demi kemanusiaan dan tidak memperdulikan kondisi daerah yang penuh keterbatasan. Ini tertuang dalam beberapa puisi yang dibacakan sejumlah perwakilan nakes dimana sejatinya tujuan utama mengabdi hanya semata – mata karena kemanusiaan. Namun jika akhirnya diperlakukan tak mausiawi tentunya ini akan berdampak pada keinginan nakes itu sendiri ditempatkan ke lokasi – lokasi rawan konflik.

Di sini dari puisi – puisi yang dibacakan juga tersirat bahwa nakes tak ada kaitannya dengan  konflik yang terjadi apalagi soal politik. Karenanya salah jika menjadikan nakes sebagai sasaran  apalagi sampai mencederai dan meninggal.

Doa sebelum penyalaan 1.000 lilin dipimpin tak hanya oleh pendeta tetapi ada juga ustad dan lilinpun dinyalakan persis di tengah jalur jalan.

Hanya sebelum dilakukan pemasangan lilin sebagai bentuk kepedulian dan keprihatinan ternyata banyak nakes yang memilih berfoto – foto selfie sambil tersenyum. Ini akhirnya diingatkan oleh pemandu kegiatan untuk bisa menciptakan suasana syahdu dan tidak berisik. “Stop foto – dulu dan kalau lilin menyala sebisa mungkin jangan ada suara – suara yg muncul,” tegur pembawa acara.

Sementara lilin – lilin yang dinyalakan selain dilakukan oleh para nakes, ada juga anak – anak yang ikut menyalakan lilin didampingi orang tua mereka. (fia/ade/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *