Pasar Tradisional dan Penjualan Online Paling Banyak Berseliweran Produk Kosmetik Bermasalah

Kepala BBPOM Jayapura Mozaja Sirait bersama Kepala BNN Provinsi Papua ketika memusnahkan barang bukti sabu-sabu di halaman kantor BBPOM Jayapura di Kotaraja, Senin (6/9). (Gamel Cepos)

JAYAPURA – Kepala BBPOM Jayapura, Mojaza Sirait S.Si., Apt mengungkapkan bahwa hingga kini peredaran produk obat maupun pangan berbahaya masih sering ditemukan. Masyarakat diminta lebih cerdas dalam membeli produk dan memastikan memiliki ijin edar. Pasalnya hingga kini tak sedikit produk makanan, obat maupun jamu dan kosmetik berbahaya yang masih berseliweran.
Pembeli diminta melakukan cek klik guna memastikan barang yang dibeli aman dan tidak memberi efek samping. Ini dibuktikan oleh BBPOM saat melakukan pemusnahan barang bukti didampingi BNN Provinsi Papua. Mojaza menyampaikan bahwa dari hasil pengawasan dan penidakan yang dilakukan sejak awal tahun 2021 ditemukan total produk yang tidak memenuhi syarat sebanyak 6090 pcs. Ini jika dinilai dengan uang maka jumlahnya berkisar Rp 113.343.308.
Sebanyak 6090 pcs ini terdiri dari 87 pcs obat, 510 pcs obat tradisional, 2173 pcs kosmetika dan 3320 pcs pangan. Pemusnahan yang dilakukan di halaman kantor BBPOM ini sekaligus memusnahkan barang bukti narkotika golongan I yaitu ganja dan sabu – sabu. “Jadi hingga kini jumlahnya masih tinggi dan kami melihat pasar yang disasar untuk produk kosmetik atau pangan berbahaya ini adalah pasar tradisional dan penjualan online,” kata Mojaza kepada wartawan diakhir kegiatan pemusnahan di halaman kantor BBPOM Kotaraja, Senin (6/9.
Diakui dalam melakukan penindakan upaya yang cukup menyulitkan adalah ketika dijual secara online mengingat produk barangnya hanya berupa gambar dan belum secara fisik. Sehinga perlu dilakukan transaksi untuk melihat barangnya. Ini dikatakan tidak sesulit penanganan di pasar tradisional yang produknya bisa langsung diperiksa. “Jadi pasar tradisional yang paling sering dipakai untuk memasarkan produk pangan, obat dan kosmetik berbahaya. Lalu penjualan online juga sama,” tambahnya.
Iapun membeberkan bahwa selama Januari hingga Agustus 2021 penyidik pegawai negeri sipil BPOM telah menangani 23 kasus pelanggaran dibidang obat dan makanan dimana 2 diantaranya diajukan sebagai perkara tahun 2021 alias berproses hukum. “Sisanya kami lakukan pembinaan,” tambahnya. Dikatakan Sirait bahwa kejahatan pelanggaran obat dan makanan merupakan kejahatan kemanusiaan dan untuk mempersempit gerak oknum pelaku kejahatan harus dilakukan pengawasan yang saling bersinergi baik oleh pemerintah, pelaku usaha maupun masyarakat.
“Kami terus mengingatkan untuk menjadi konsumen yang cerdas, lakukan dengan cek klik dan pastikan kemasan dalam kondisi baik kemudian membaca label serta tanggal kadaluarsa,” imbuhnya. Dalam kesempatan ini barang bukti lain yakni sabu – sabu dan ganja juga ikut dimusnahkan. Untuk ganja dibakar dan disiram dengan minyak sedangkan sabu – sabu dilarutkan dalam air mendidik kemudian ditumpah. (ade/cr-265/wen))

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *