Hindari AIDS, Atlet PON Dilarang “Jajan”

kepala dinas kesehatan Nevile Muskita

MERAUKE-Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Merauke dr. Nevile R. Muskita terkait dengan pelaksanaan PON XX di Merauke, pihaknya melarang para atlet PON baik dari Papua maupun dari daerah lain untuk “jajan” seks, baik di lokalisasi Yobar, maupun tempat prostitusi terselubung.
“Tidak ada penyediaan alat pengaman secara khusus, karena mereka dilarang untuk jajan selama di Merauke. Jadi tidak ada pembagian itu (kondom),” ungkap Nevile Muskita ketika ditemui di ruang kerjanya, Senin (6/9).
Diakui bahwa angka kasus HIV-AIDS masih tinggi di Merauke. Oleh karena itu, program pengendalian HIV-AIDS di tengah pandemi Covid yang terjadi saat ini masih tetap berjalan. Meski diakuinya sosialisasi dengan cara mengumpulkan orang tidak dilakukan karena tidak diperbolehkan akibat pandemi namun untuk program pengendalian penyebaran HIV-AIDS tersebut tetap berjalan.
“Untuk program pengendalian HIV-AIDS di kita tetap berjalan. Pemeriksaan rutin oleh Pusat Kesehatan Reproduksi (PKR) untuk kelompok beresiko tetap berjalan. Jadi programnya tetap jalan,” tandas
Dikatakan, jika dari kelompok beresiko tersebut ternyata melanggar maka tentunya akan terdeteksi melalui pemeriksaan di PKR. ‘’Kalau ada yang terinfeksi tentunya tidak taat menggunakan pengaman saat melakukan transaksi. Akan terdeteksi nantinya di PKR,’’ jelasnya.
Bagaimana dengan kelompok di luar tempat hiburan yang melakukan transaksi seks yang tentunya jauh dari pengawasan, Nevile mengaku jika sejauh ini dirinya belum mendapatkan laporan secara mendalam terkait hal itu. “Kalau itu saya belum tahu,’’ terangnya.
Sementara itu, sebelumnya Sekretaris Komisi Penanggulangan AID (KPA) Merauke Sriyono didampingi Bambang bagian program KPA Merauke bahwa di tengah pandemic ini transaski seksual meningkat, lewat booking luar maupun melalui media online. Banyak wanita penjaja seks yang kalau dilihat dari sisi umurnya masih pelajar SMA atau mahasiswi.
Transaksi melalui booking luar atau lewat media online ini, sulit untuk diawasi dari sisi menekan penyebaran HIV-AIDS. Sebab, jika di Lokalisasi Yobar atau para pekerja THM, diwajibkan menggunakan kondom. “Mereka biasanya transkasi di hotel maupun di rumah-rumah sewa,” katanya.
Untuk hotel, lanjut Bambang, ada juga yang menyediakan secara part time. Sementara biaya sekali kencan untuk part time tersebut minimal antara Rp 1,5-2 juta. Sedangkan untuk long time di atas Rp 2 juta, bahkan sampai Rp 4 juta.
Kata Sriyono, untuk booking luar atau part time tersebut menyulitkan pihaknya dalam mengendalikan AIDS di Merauke. Sebab, pihaknya hanya bisa mengimbau untuk menggunakan pengaman saat transaksi. “Tapi menekan tidak bisa, karena mereka sudah bebas di luar. Beda kalau yang ada di lokalisasi Yobar,” terangnya.
Alhasil, di tahun 2020, meski jumlah VCT sedikit, namun yang ditemukan positif HIV mencapai 101 naik 1 kasus dibandingkan dengan tahun 2019 yang hanya 100 kasus. Sementara untuk tahun 2021, dari target 30.000 yang akan di VCT Januari-Maret 2021 baru mencapai 9.735 orang dengan kasus positif HIV yang ditemukan 52 orang. Sementara total kumulatif HIV-AIDS yang ditemukan sejak tahun 1992 sampai Maret 2021 sebanyak 2.541 kasus. (ulo/tri)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *