Berharap Presiden Tak Gunakan Mahkota Cenderawasih

 

George Arnold Awi . ((Gamel Cepos))

 

JAYAPURA – Desakan agar agenda PON steril dari penggunaan satwa dilindungi terutama mahkota Cenderawasih terus mengalir. Jika sebelumnya Ketua PB PON, Yunus Wonda menyampaikan bahwa pihaknya juga sepakat bahwa tak ada mahkota Cenderawasih saat pelaksanaan PON, kini giliran Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Port Numbay, George Arnold Awi yang menaruh harap lebih.

Tegas ia menyatakan bahwa secara adat istiadat mahkota Cenderawasih tidak bisa digunakan sembarangan orang. Hanya boleh digunakan oleh mereka yang mendapatkan pengakuan. Pengakuans ecara adat dan dalam hal ini adalah Ondoafi. Jika ada yang menggunakan sembarangan atau menyerahkan kepada orang lain maka orang tersebut dikatakan tak paham soal adat. “Dalam acara – acara adat itu orang yang punya kapasitas sebagai ondoafi yang berhak menggunakan, selain itu tak boleh dipakai sembarangan orang. Mahkota ini juga tidak digunakan sembarangan acara. Itu hanya dipakai dalam acara adat yang sakral sebab ada orang yang ditugaskan untuk memanggil nenek moyang dalam proses itu barulah mahkota itu ditunjukkan dan yang pakai pakaian adat dan mahkota itu bukan sembarangan orang,” ujar Geore Awi saat ditemui di Kotaraja, Senin (6/9).

Karena itulah Gorge Awi mengatakan bahwa ketika ia diundang bertemu presiden Jokowi beberapa waktu lalu ia tetap tak menggunakan mahkota tersebut. Ia berpendapat bahwa acara yang dihadiri adalah acara kenegaraan dan bukan acara adat sementara mahkota Cenderawasih ini hanya boleh digunakan dalam acara adat. “Mereka (tim Jokowi) meminta saya pakai mahkota tapi saya tolak, saya bilang pertemuan itu acara kenegaraan jadi saya tidak bisa pakai. Tapi sekarang dalam perkembangan jaman banyak yang pakai. Misalnya Ketua Pemuda Adat pakai mahkota itu sebenarnya dia punya kapasitas apa dalam adat sampai mau pakai barang itu (Mahkota Cenderawasih). Harusnya pemuda belajar dan memahami soal tatanan adat, bukan justru menunjukkan yang salah,” sindir Awi.

Iapun meminta ketika presiden datang membuka kegiatan PON sebaiknya tidak menggunakan mahkota Cenderawasih. Masyarakat adat dan panitia juga jangan memberikan mahkota ini sembarangan. “Kami ingatkan dan kami minta jangan berikan mahkota Cenderawasih kepada presiden. Jangan pakai burung Cenderawasih. Imitasi boleh tapi jangan yang asli. Itu orang yang tidak mengerti budaya dan adat kalau sembarangan pakai dan sembarangan memberikan. Saya tegas bicara, itu orang yang tidak tahu adat,” cecarnya.

George Awi yang juga menjabat sebagai Ondoafi menyampaikan bahwa mahkota adalah berbicara identitas pemimpin di adat sebab untuk menggunakannya juga tidak sembarang. Harus lewat ritual adat atau acara pengukuhan yang memang sakral. “Pak Jokowi harus tahu beliau dalam adat sebagai apa dan Pak Jokowi harus pahami bahwa Cenderawasih merupakan satu satwa yang dilindungi oleh undang – undang dan jika presiden pakai maka masyarakat akan mengatakan bahwa presiden tak paham aturan. Lalu kalau masyarakat adat yang menyerahkan kepada tamu atau pejabat, itu orang – orang yang tidak tahu adat,” tambahnya.

Ia meminta keberadaan mahkota Cenderawasih ini tidak dilacurkan sebab itu identitas dan kesulungan yang tak boleh digadaikan. “Kita pergi ke Jogya ke keratin kita menghargai tatanan adat disana dan sebagai orang adat kita harus menghargai. Begitu pula dengan saudara – saudara yang datang tolong harga kami disini. Itu milik adat dan wajib dijaga tatanannya,” tegasnya. Sementara meski telah ada statemen tegas dari tokoh adat namun sejumlah penggiat lingkungan masih khawatir mengingat event akbar hampir bisa dipastikan bahwa ada banyak pesanan mahkota Cenderawasih.

“Ini satu kekhawatiran kami sebab kami juga mendengar dari masyarakat di kampung yang suka berburu bahwa mereka pastikan ada pesanan dari pejabat – pejabat. Mereka mengakui itu bahwa pesanan akan muncul mendekati event,” ujar Irwan Johan Koordinator Ketua Earth Hour Jayapura. Upaya yang dilakukan kata Irwan adalah membangun pemahaman yang sama dengan melakukan edukasi. Termasuk lewat petisi. “Petisinya sudah kami sebar dan poinnya disitu meminta PB PON untuk mengeluarkan surat penegasan bahwa mereka tidak menghadirkan atau menggunakan mahkota Cenderawasih asli, kalau yang imitasi silahkan. Poin kedua kepada BBKSDA Papua, kami meminta mereka untuk mengawal isu ini,” kata Blandina Isabela salah satu penggiat lingkungan di Jayapura.

Dalam petisi tersebut dijelaskan bahwa BBKSDA perlu memastikan taka da potongan satwa dilindungi terlebih mahkota Cenderawasih yang keluar dari Papua. “Kami meminta mereka (BBKSDA) mengawal ini. Kami mendengar ada surat dari Kementerian LHK soal mahkota dan PON tapi kami belum melihat surat itu dan kami pikir tidak bisa hanya sebatas surat,” tambahnya. Rahmad Saleh juga berkomentar meminta panitia PON harus bisa memastikan tak ada satwa dilindungi yang digunakan selama PON. “Juga ke BBKSDA, jangan hanya menulis PON tanpa asap tapi bisa tidak menulis PON tanpa mahkota Cenderawasih dan kita dorong sama – sama. Kita kawal sama – sama isu ini,” tutup Rahmad Saleh. (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *