Wabup:  Warga Lebih Tergantung Beras daripada Hipere

Warga saat mengganti untuk mendapatkan beras Bantuan PPKM dari Presiden beberapa waktu lalu. (Denny/Cepos)

WAMENA-Wakil Bupati Jayawijaya Marthin Yogobi, SH, MHum di Wamena, memastikan Pemerintah Jayawijaya terus mendorong warga untuk kembali membuka kebun baru, sehingga tidak terus bergantung kepada beras. Sebab, berkebun adalah budaya yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja bagi masyarakat di wilayah Lapago pada umumnya.

  “Ketergantungan kita (masyarakat asli Jayawijaya) terhadap nasi itu lebih tinggi, dari pada kita punya hipere (ubi jalar). Akhirnya lokasi kebun itu rumput tinggi, karena tidak ada yang mau kerja kebun lagi,” ungkapnya Sabtu (4/9) kemarin.

  Ia mencontohkan beberapa tahun silam ketika masyarakat menyelenggarakan sebuah acara, maka ubi jalar pasti disedikan walaupun sudah ada nasi. Hal ini dilakukan, sebab saat itu warga tidak terasa kenyang jika hanya mengkonsumsi nasi, sebab sudah terbiasa mengkonsumsi Hipere, sekarang terbalik karena ketergantungan untuk hasil lebih tinggi.

   “Dahulu kita sudah makan nasi banyak pada acara itu, tetapi rasanya perut masih kosong jadi kita harus tambah lagi dengan hipere (ubi), tetapi sekarang terbalik. Sekarang sekalipun kita makan hipere (ubi jalar) besar-besar, kalau tidak makan nasi rasanya perut belum kenyang. Ini perubahan perilaku hidup,” katanya.

   Wabup  menginstruksikan 328 kepala kampung di 40 distrik memanfaatkan separo dari dana desa yang diterima untuk pengembangan pangan lokal. Sebelumnya pemerintah terus memberikan bantuan perlatan pertanian seperti sekop, parang dan linggis untuk masyarakat.

   “Sekarang kalau ada warga yang minta peralatan kerja seperti sekop, saya tidak akan lagi bantu. Kalau ada usulan permohonan alat kerja, saya kembalikan ke kepala kampung karena ada dana kampung,” jelasnya. (jo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *