Penjual Souvenir Khas Papua Tidak Tambah Stok

Tampak berbagai souvenir khas Papua yang dijual di depan Pasar Sentral Hamadi, Jumat (3/9)kemarin. (Priyadi/Cepos)

JAYAPURA– Pelaksanaan PON XX di bulan Oktober ini sudah semakin dekat, namun hingga kini persiapan pelaku usaha dalam menyambut PON XX belum begitu terlihat maksimal.

Contohnya saja penjual souvenir khas Papua dalam menghadapi PON XX mereka mengaku tidak bisa all out atau totalitas disebabkan pandemi Covid-19 belum berlalu. Sehingga mereka dalam menyiapkan souvenir khas Papua juga tidak banyak. Hanya sesuai kemampuan saja yang penting ada. Apalagi berdasarkan informasi yang merek peroleh PON XX dihadiri penonton namun terbatas,  tentu ini juga akan mempengaruhi semangat mereka dalam menjual souvenir khas Papua.

Hasan selaku penjual souvenir khas papua di komplek penjualan souvenir Papua di depan Pasar Sentral Hamadi, Hasan mengaku,  souvenir khas Papua  yang ia jual hanya stok lama,  karena PON XX harusnya dilaksanakan tahun 2020 lalu sehingga ia sudah tambah stok ternyata malah ditunda tahun ini, sehingga ia tidak lagi mendatangkan souvenir khas papua lagi. Kalaupun ada yang baru ini baru ia datangkan karena memang lagi kosong, namun untuk penambahan stok ia belum lakukan karena tidak memiliki modal juga.

“Souvenir khas Papua yang saya jual masih barang lama seperti koteka, lukisan serat kayu, noken, ukiran patung dan lainnya. Saya tidak berani tambah stok atau mendatangkan lagi karena tidak ada modal. Kalau ambil modal di bank untuk beli souvenir khas Papua sementara PON XX berlangsung dengan penonton terbatas tentu kami rugi,”ungkapnya, Jumat (3/9) kemarin.

Hal senada juga dikatakan Yaya dan Mirna penjual souvenir khas Papua yang juga berjualan di depan Pasar Sentral Hamadi. Mereka hanya menyediakan souvenir khas Papua yang masih ada saja, karena di masa  pandemi Covid-19 masih banyak souvenir khas Papua yang belum laku,  sehingga ia tidak datangkan dari beberapa kabupaten di Papua. Karena memang untuk souvenir khas Papua ada yang ia beli bahan dasarnya lalu dibikin sendiri seperti buah labu untuk dibuat koteka sendiri, serat kayu dilukis sendiri, bia atau kerang dibuat hiasan sendiri, telur kasuari yag dilukis hanya dibeli telurnya saja dan lainnya.  Namun stoknya masih ada maka mereka tidak mendatangkan bahan bakunya, kecuali memang souvenir khas Papua seperti noken yang bahannya dari serat bunga anggrek kebanyakan beli langsung jadi.

Soal harga,  mereka juga tidak menaikkan masih seperti biasa, pasalnya,  jika harga dinaikkan tentu pembelinya pilih di tempat lain, sehingga mereka lebih memilih yang penting cepat laku walaupun dapat untung sedikit.(dil/ary)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *