Peraih Emas Asean Games Berharap Atlet Papua Andalkan Tuhan

Kartika Monim (Noel/Cepos)

-Sayangkan Atlet Voli Papua Tidak Ada OAP

JAYAPURA – Mantan Atlit Nasional Voli asal Papua yang berhasil meraih juara 1 voli pada event internasional Asian Games tahun 1983 di Filipina yakni Kartika Monim mengingatkan agar para atlit PON yang akan  bertanding pada event PON XX Tahun 2021 Oktober mendatang nantinya jangan mengandalkan fisik dan kemampuan pribadi semata tetapi mengutamakan Tuhan dalam berlomba.

“Jangan lupa berdoa karena semua kekuatan dari Tuhan, kadang anak muda lebih mengutamakan kekuatan fisik dan masa mudanya tapi saya mau kasih tahu bahwa kekuatan kita hanya kepada Tuhan, semua ada di tangan Tuhan mau menang atau kalah semua ada ditangan Tuhan sehingga kalau kita kuat didalam Tuhan kita bisa prestasi,” Kata Wanita yang suda memiliki enam anak tersebut di Kediamanya, di Jayapura, Jumat, (03/8).

Dikatakan Perempuan Asli Sentani 58 Tahun itu bahwa seorang atlet ketika berlatih harus benar-benar menghilangkan keangkuhan dirinya bahwa dia mampu tetapi lebih mengutamakan Tuhan untuk berperkara dalam bertanding.

“Jadi rasa diri aku , aku  dalam diri itu yang dihilangkan dan utamakan Tuhan dan itu yang dikedepankan,” tegasnya.

Kartika Monim juga pernah wakili Indonesia bertanding di Jepang pada event perlombaan Voli se Asean di Jepang tersebut mengatakan bahwa, dalam sebuah tim atlet dan pelatih harus kompak dan atlit harus sengar dengarkan.

“Perlu juga ada kekompakan antara pelatih dan atlet dan atlit harus sering dengar-dengaran,” katanya.

Dia mengatakan dengan tema pohon di Papua bahwa “Torang Bisa” harus benar-benar dibuktikan oleh atlet Papua yang ada di semua cabang olahraga jangan ini menjadi semboyan sehingga siapkan mental dan fisik juga hubungan dengan Tuhan.

“Mental dan fisik harus siap kenapa daerah lain bisa kita tidak bisa,” katanya memangat kepada atlit PON di Papua.

Sebagai atlet profesional yang telah membawa nama besar dari sukunya Sentani, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua bahkan Indonesia di ajang internasional ia juga sangat mengaku kecewa dengan Tim Voli Papua atas kurangnya  keterlibatan anak-anak Papua sebagai atlet voli sementara mereka memiliki kemampuan yang cukup bagus dari segi fisik, lompatan dan Servis Voli.

“Satu hal yang saya mau sampaikan saya minta maaf sampai hari ini untuk tim voli saya sangat kecewa, karena yang bermain semua dari non Papua sebenarnya kita orang Papua itu masih bisa bermain kenapa kita tidak bisa, ini di tanah kita sendiri.  Kita orang Papua itu bukan lurus rambut tetapi hitam keriting dan ini tanah kita kenapa harus orang lain yang main, ko Itu masih mampu, kenapa Persipura bisa mendatangkan pelatih dari luar sementara kita voli tidak bisa bawa saja pelatih dari luar, menang kalah itu tidak penting tetapi bagaimana orang Papua juga membuktikan bahwa kita bisa dan ketika orang luar menjadi atlet voli ia akan berjuang demi kontrak, tetapi kalau orang Papua yang main ia akan berjuang demi harga diri, ini yang beda! kenapa tulisan besar “Torang Bisa” tapi kita tidak buktikan,”  katanya

Namun dengan situasi saat ini  yang sudah mendekati PON Ia mengaku pasrah namun kecewa dengan melihat atlet PON Papua khususnya voli yang tidak melibatkan orang Papua.

Perempuan Asli Putali (Puyo Besar) ini  mengatakan dari pengalamannya ketika menjuarai medali emas pada Asian Games di Filipina pada tahun 1983 dirinya  bahwa kelebihan orang Papua adalah fisik lompatan dan smash.

” Mama Punya kelebihan kita memiliki fisik yang mampu dan kuat kita hanya kalah di  motivasi pembinaan, itu semua tergantung dari pelatih saja kalau pelatih mampu membina kita dengan baik kita pasti akan sama dengan mereka di luar dan bahkan lebih dari itu tergantung pembinaan pelatih saja dan ini berlaku juga bagi seluruh cabang olahraga lain bahwa kita bisa,” katanya.

Dia mengatakan semangat yang dirinya pegang waktu tahun 1981  sampai dengan 1983 menjuarai  Asian Games tersebut dengan memotivasi diri bahwa orang Papua juga bisa sama dengan orang lain.

“Waktu itu yang menjadi pegangan saya adalah kenapa orang lain bisa, saya tidak bisa dan itu saya buktikan Puji Tuhan saya bisa terpilih menjadi di tim utama untuk bertanding di Asian Games sebagai orang Papua dan Perempuan Papua pertama pada tahun 1983, menjadi juara Asean Games sampai hari ini dimana dari 19 orang saya terpilih ke 12 besar dan dari 12 saya masuk tim inti 6 besar Asean Games, maka saya pesan atlit PON andalan Tuhan Bukan kekuatan kalian, saat bertanding PON nanti,” katanya, (oel/gin).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *