Para Terdakwa Kasus Penembakan Anggota Polisi di Mamra Dituntut Sangat Ringan

proses persidangan kasus penembakan yang menewaskan polisi asli papua di Kabupaten Mamberamo Raya

PAHAM Papua Nilai, Proses Hukum di Peradilan Militer Terkesan ‘Melindungi”

JAYAPURA- Perkara penembakan Polisi Asli Papua  di Kasonaweja, Kabupaten Mamberamo Raya pada 12 April 2020 yang mengakibatkan meninggalnya 3 (tiga) Anggota Polres Mamberamo Raya. Namun persidangan baru mulai digelar di Peradilan Militer Jayapura yang dimulai 27 Juli 2021, kemudian beberapa sidang berikutnya dan  hingga sidang lanjutan pada 1 September 2021 kemarin, dinilai oleh PAHAM Papua selalu sebagai Kuasa Hukum dari Keluarga Korban Almarhum Briptu Marchelino Rumaikewi bahwa proses di peradilan militer ini sudah sejak awal melanggar azas persidangan cepat dan biaya murah persidangan, karena menghabiskan waktu yang cukup lama yakni dari peristiwa hingga persidangan kurang lebih 1 tahun 5 bulan. Selain itu, PAHAM  Papua Juga menilai Peradilan Militer terkesan “melindungi” para terdakwa anggota TNI karena dituntut sangat ringan.

Koordinator PAHAM Papua Gustaf Kawer, SH, dalam rilisnya kepada Cenderawasih Pos menjelaskan, Persidangan perkara penembakan Polisi Asli Papua  di Kasonaweja, Kabupaten Mamberamo Raya pada 12 April 2020 yang mengakibatkan meninggalnya 3 (tiga) Anggota Polres Mamberamo Raya atas nama Almarhum Briptu Marchelino Rumaikewi, Almarhum Bripda Yosias Vandesen Dibangga dan Bripka Alexander Ndun serta korban luka berat akibat penembakan yang menimpah beberapa anggota Polisi atas nama Bripka Alva Titaley dan Brigpol Robert Maryen.

Dikatakan, persidangan awal di Peradilan Milter Jayapura, 27 Juli 2021 dengan agenda dakwaan mengalami penundaan karena Para Terdakwa sebanyak (lima) orang dari Kesatuan TNI atas nama Rawin Kambay, Gerson Sarwano, Muhammad Arfan, Ariyanto Andrarias Patanan, Septiyan Rudi Cahyono dalam persidangan tidak mampu dihadirkan oleh Oditur Militer dengan alasan terdakwa sebagian masih di Makassar dan sebagian lagi di Merauke.

Sidang ditunda lagi sampai pada tanggal 08 Agustus 2021, pada persidangan dengan tanggal yang ditetapkan tersebut, Oditur tidak dapat menghadirkan para terdakwa dengan alasan yang sama, selanjutnya Oditur memohon kepada majelis untuk memindahkan persidangan ke Merauke dengan alasan supaya dekat dengan para terdakwa dan hakim mengabulkan permohonan tersebut. Sidang berikutnya ditunda hingga  30 Agustus 2021.

Pada persidangan lanjutan yang dilaksanakan pada Senin, 30 Agustus 2021 di Pengadilan Negeri Merauke, Oditur membacakan dakwaan terhadap para terdakwa Rawin Kambay, Gerson Sarwano, Muhammad Arfan, Ariyanto Andrarias Patanan, Septiyan Rudi Cahyono, dengan dakwaan melanggar Pasal 358 KUHP yang menyebabkan meninggalnya Almarhum Briptu Marchelino Rumaikewi, Almarhum Bripda Yosias Vandesen Dibangga dan Bripka Alexander VY Ndun serta korban luka berat atas nama tas nama Bripka Alva Titaley dan Brigpol Robert Maryen,

Dakwaan dalam Pasal tersebut ancaman hukumannya sangat rendah berkisar antara 2 Tahun 8 bulan hingga 4 Tahun untuk sebuah kasus yang menyebabkan meninggalnya orang. Setelah pembacaan dakwaan agenda sidang dilanjutkan dengan mendengar keterangan saksi pada Senin 30 dan 31 Agustus 2021. Dari 36 saksi yang terdapat dalam Berita Acara Pemeriksaan yakni 11 Saksi dari TNI, 20 Saksi dari Polisi, 5 ahli dari dokter, hanya 3 orang saksi yang dihadirkan dalam persidangan untuk didengar keterangannya. Sedangkan saksi-saksi dan ahli lainnya hanya dibacakan keterangan dalam sidang.” Tentu sidang ini sangat jauh dari kepentingan mengejar kebenaran materil dalam pengungkapan fakta penembakan para korban,” ujar Gustaf .

Sidang lanjutan pada Rabu, 01 September 2021 dengan agenda tuntutan dibacakan Oditur pada Jam 18.55 WIT hingga 20.00 WIT. Oditur dalam uraiannya menyatakan para terdakwa terbukti melakukan penyerangan yang menyebabkan meninggalnya almarhum Briptu Marchelino Rumaikewi, Almarhum Bripda Yosias Vandesen Dibangga dan Bripka Alexander VY Ndun serta korban luka berat akibat penembakan yang menimpah beberapa anggota Polisi atas nama Bripka Alva Titaley dan Brigpol Robert Maryen sehingga dituntut oleh Jaksa terbukti melanggar Pasal 358 Ayat (2) KUHP dengan tuntutan masing-masing, Terdakwa I Rawin Kambay 18 Bulan Penjara, Terdakwa II Gerson Sarwano 12 Bulan Penjara, Terdakwa III Muhammad Arfan 10 Bulan Penjara, Terdakwa IV Ariyanto Andrarias Patanan 10 Bulan Penjara, Septiyan Rudi Cahyono 10 Bulan Penjara.

Sidang selanjutnya ditunda ke Kamis, 02 September 2021 untuk mendengar pembelaan dari penasehat hukum para terdakwa.

PAHAM PAPUA sebagai Kuasa Hukum dari Keluarga Korban Almarhum Briptu Marchelino Rumaikewi menilai persidangan ini sangat jauh dari rasa keadilan korban dan keluarganya, mulai dari  penggunaan dakwaan/sangkaaan yang ancaman hukumannya sangat rendah, proses yang memakan waktu 1 tahun 5 bulan, Para Terdakwa tidak ditahan selama proses hukum, tidak adanya komunikasi dari pihak Kodam dan Polda Papua kepada keluarga korban.

” Pihak Polda yang tidak proaktif untuk menghadiri proses sidang dan bertindak sebagai saksi padahal korbannya adalah anggota dari kesatuan Polda sendiri,” ujarnya. Selain itu,  sebagian besar saksi tidak dihadirkan dalam persidangan dan persidangan ini, tuntutan yang sangat rendah hingga proses yang sangat jauh dari pemantauan Lembaga-lembaga HAM, kondisi ini dinilai sangat jelas ada indikasi proses hukum di Peradilan Militer ada desain untuk melindungi pelakunya.

“ Kami PAHAM Papua, kuasa hukum korban bertindak atas nama keluarga korban Marchelino Rumaikewi berharap hakim memberikan vonis yang maksimal dan hukuman tambahan bagi para terdakwa agar dipecat dari kesatuannya karena sudah menghilangkan nyawa Briptu Marchelino Rumaikewi dan korban anggota kepolisian lainnya,” ungkap Kawer.(luc)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *