Pandemi Covid, Bisnis “Esek-esek” Malah Meningkat

Sriyono (Sulo/Cepos )

Pelanggan Pilih BL dan Transaksi Media Online
MERAUKE-Di tengah pandemi Covid-19 apalagi dengan adanya pembatasan aktivitas kegiatan, nampaknya bukan menjadi kendala bagi praktik prostitusi, alias bisnis ‘esek-esek’. Pandemi Covid-19 ini, dimana banyak masyarakat kesulitan ekonomi, disinyalir jadi pemicu transaksi seksual yang mengalami peningkatan yang signifikan. Ya, masyarakat pelanggan, memilih untuk booking luar (BL) dan transaksi melalui media online.
BL dan transaksi lewat media online ini, tidak hanya dilakukan oleh para wanita pekerja seks komersial (PSK) yang sudah secara terbuka bekerja di lokalisasi Yobar namun juga mereka yang praktik menjajakan seks terselubung, atau belum mau terbuka kepada masyarakat.
“Dengan adanya pandemi sekarang apalagi dengan aktivitas masyarakat dibatasi dengan ditutupnya THM maupun lokalisasi membuat banyak yang beralih lewat booking luar maupun menggunakan media online untuk transaksi,” kata Sekretaris Komisi Penanggulangan AID (KPA) Merauke Sriyono didampingi Bambang bagian program KPA Merauke saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (2/9) kemarin.
Menurut Sriyono, apa yang disampaikan tersebut sudah melalui penelitian yang pihaknya lakukan. “Kita sudah tanya anak-anak yang ada di Yobar dan memang penyampaiannya begitu, BL maupun melalui media online. Bukan hanya itu, banyak juga yang wanita yang kalau dilihat dari sisi umurnya masih pelajar SMA atau mahasiswi,” katanya.
Transaksi melalui booking luar atau lewat media online ini, jelas Sriyono, sulit untuk diawasi dari sisi menekan penyebaran HIV-AIDS. Sebab, jika di Lokalisasi Yobar atau para pekerja THM, diwajibkan menggunakan kondom. “Mereka biasanya transkasi di hotel maupun di rumah-rumah sewa,” katanya.
Untuk hotel, lanjut Bambang, ada juga yang menyediakan secara part time. Sementara biaya sekali kencan untuk part time tersebut minimal antara Rp 1,5-2 juta. Sedangkan untuk long time di atas Rp 2 juta, bahkan sampai Rp 4 juta.
“Saya sampaikan ini karena ada teman-teman kami yang sudah secara terus terang sampaikan begitu,” kata Bambang.
Kata Sriyono, untuk booking luar atau part time tersebut menyulitkan pihaknya dalam mengendalikan AIDS di Merauke. Sebab, pihaknya hanya bisa mengimbau untuk menggunakan pengaman saat transaksi. “Tapi menekan tidak bisa, karena mereka sudah bebas di luar. Beda kalau yang ada di lokalisasi Yobar,” terangnya.
Alhasil, di tahun 2020, meski jumlah VCT sedikit, namun yang ditemukan positif HIV mencapai 101 naik 1 kasus dibandingkan dengan tahun 2019 yang hanya 100 kasus. Sementara untuk tahun 2021, dari target 30.000 yang akan di VCT Januari-Maret 2021 baru mencapai 9.735 orang dengan kasus positif HIV yang ditemukan 52 orang. Sementara total kumulatif HIV-AIDS yang ditemukan sejak tahun 1992 sampai Maret 2021 sebanyak 2.541 kasus. (ulo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *