Petugas Balai Sanca Papua dan 3 Biawak Papua Nyaris Terkirim ke Depok

Petugas Badan Karantina Pertanian Jayapura menyerahkan satwa temuan yang akan diselundupkan kepada petugas BBKSDA pekan kemarin. Terdapat 3 biawak Papua dan 1 sanca hijau yang mau diselundupkan namun berhasil digagalkan. (Badan Karantina For Cepos)

JAYAPURA  Meski sudah sering digagalkan, upaya penyelundupan satwa dilindungi melalui jalur udara ternyata masih saja dilakukan. Para pelaku nampaknya belum merasa jera karena bisa jadi selama ini tidak berproses hukum. Yang terakhir adalah upaya penyelundupan satwa endemic Papua yang dikirim oleh seorang pria berinisial NN.

NN ini berencana mengirimkan 3 ekor biawak Papua dan 1 ular sanca hijau Papua ke Depok, Jawa Barat. Di daerah tujuan, hewan ini akan diterima seorang bernama Gilang Akasi. Dari kronologis yang diterima Cenderawasih Pos bermula pada Pada hari Jumat, 27 Agustus 2021 pukul 10.41 WIT, pejabat karantina Zalil Ipari, A.Md menerima informasi dari petugas AVSEC Muhammad Sabarudin perihal temuan paket yang mencurigakan diduga berisi satwa tanpa dilengkapi dengan sertifikat karantina di X-Ray Regulated Agent PT. Pajajaran Global Service.

Saat itu juga Zalil Ipari  bersama dengan petugas AVSEC melakukan pemeriksaan kemasan yang dimaksud dan dugaannya benar.  Setelah di cek lebih lanjut ternyata terdapat 3 ekor Biawak Papua (Varanus Salvadorii) dan 1 ekor ular Sanca Hijau Papua (Morelia Viridis) yang dilindungi. Terhadap paket berisi satwa tersebut dilakukan tindakan karantina pemeriksaan kesehatan oleh pejabat Karantina Hewan Zalil Ipari, A.Md sebab media pembawa berupa ular sanca tersebut tidak dilaporkan dan diserahkan ke petugas karantina saat akan dilakukan pengiriman ke daerah tujuan, serta tidak dilengkapi dokumen kewajiban tambahan berupa Surat Angkut Tumbuhan dan Satwa Dalam Negeri (SATS-DN) dari BBKSDA Papua.

“Selanjutnya barang temuan tersebut diserahterimakan dari RA PT Pajajaran Global Service kepada Balai Karantina Pertanian Kelas I Jayapura untuk selanjutnya dilakukan pemeriksaan lebih lanjut di Wilayah Kerja Bandara Sentani, Balai Karantina Pertanian Kelas I Jayapura,” ujar Zalil seperti dalam rilis Badan Karantina Pertanian, Rabu (1/9). Sekeda diketahui ular Sanca Hijau ini merupakan satwa endemic Papua yang biasa juga ditemukan di PNG. Ular ini menjadi satu ular buruan para pecinta reptile khususnya ular karena warganya.

Bahkan ada yang berwarna biru bisa dihargai sampai dengan Rp 6 miliar. Harga semahal itu dikarenakan sanca biru merupakan jenis yang langka. Ular Sanca Hijau ini termasuk satwa yang dilindungi  sesuai Permen KLHK nomor P 106 tahun 2018  dan kini  berkategori Cites Appendix II. “Hewannya sudah kami serahkan ke BBKSDA dan menjadi ranah BBKSDA untuk selanjutnya,” imbuh Zalil.  (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *