Seniman Sepakat Perlu Panggung dan Momen

Para pemateri ketika memberikan materinya di pembukaan kegiatan temu kangen seniman seniwati Papua di Hotel Batiqa, Entrop, Selasa (31/8). (Gamel Cepos)

JAYAPURA – Para seniman dan seniwati di Papua sepakat untuk bisa memiliki panggung dan moment yang nantinya digunakan untuk memamerkan atau menunjukkan hasil karya yang digarap. Selama ini diakui bahwa para seniman hanya berjuang seorang diri lewat sanggar – sanggar kecil kemudian dipertontonkan dengan kondisi apa adanya dan banyak kekurangan.
Dalam temu kangen para penggiat seni di Papua ini akhirnya muncul kesepahaman bahwa seni dan budaya harus tetap dilestarikan untuk anak cucu dan masing – masing pihak memiliki tanggungjawab untuk ikut melestarikannya. Kegiatan temu kangen ini diinisiasi oleh DPD Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Provinsi Papua dan diikuti oleh seniman Papua secara langsung maupun yang ada di luar negeri via zoom dan live streaming.
Dari moment perdana ini para seniman mengeluarkan sejumlah poin pertama para seniman seniwati meminta pemerintah dalam hal ini gubernur, MRP, DPRP dan pemerintah pusat untuk menyelesaikan persoalan lokasi Ekspo Waena yang bisa dipakai untuk berkumpul dan berkarya, kedua meminta pemerintah untuk memberikan perhatian khususnya kepada mitra – mitra seni termasuk dewan kesenian Papua dan KSBN untuk menjalankan program seni budaya di tanah Papua. Ketiga seniman seniwati meminta pemerintah membantu Institut Seni dan Budaya Indonesia di Tanah Papua untuk menghasilkan pekerja seni yang professional dan terampil. “Kami juga menolak sekat antar seniman dan menjunjung tinggi hasil karya yang diciptakan. Kami juga meminta senima dan seniwati ini dilibatkan dalam PON dan Peparnas,” kata Ketua DPD KSBN Papua, Metusalem Wopari usai kegiatan temu kangen di Hotel Batiqia Entrop, Selasa (31/8).
Kegiatan ini dibuka oleh Ketua DPR Papua, Jhony Banua Rouw dan diisi oleh Ketua PB PON, Yunus Wonda, anggota Komisi II Jhon Gobay serta beberapa pemateri lainnya. Johny tak menampik jika kegiatan ini menjadi penting untuk dijadikan momentum bangkitnya seni budaya di Papua. Para seniman seniwati membutuhkan ruang untuk berekspresi. “Saya akui ada pergeseran nilai – nilai budaya dimana saat ini mama – mama ada juga yang lebih memilik menonton film drama korea ketimbang mengajarkan Bahasa ibu kepada anak – anaknya,” beber Jhony.
Ia menyinggung di daerah Jawa masih banyak ditemukan orang yang tak bisa berbahasa Indonesia karena selalu menggunakan Bahasa daerahnya. Sementara di Papua semua orang menggunakan Bahasa Indonesia dan lupa bahasa daerahnya. “Ini menjadi koreksi bersama,” imbuhnya. Ketua Panitia, Yonas Nusi mengatakan, dalam pertemuan ini selain mendiskusikan tentang bagaimana memajukan seni di Papua, juga bertujuan mengajak semua pekerja seni di Tanah Papua mempromosikan bagaimana keragaman seni dan budaya dari beragam suku yang ada di Bumi Cenderawasih.
Yonas yang juga anggota DPR Papua ini menyampaikan bahwa perhelatan PON XX dan Peparnas XVI yang akan digelar awal Oktober dan November mendatang harus melibatkan seniman Papua. “Seniman-seniman Papua perlu dilibatkan untuk mensukseskan PON XX dan kami minta ini sebagai jaminan,” tegasnya. (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *