Greenpeace Ingatkan Jangan Bocor Soal Mahkota Cenderawasih Saat PON

Juru Kampanye Hutan Papua, Greenpeace Indonesia, Nicodemus Wamafma. ((Nicodemus For Cepos))

JAYAPURA – Pekan Olahraga Nasional (PON) di Papua tinggal menghitung hari. Perhelatan event perdana ini diyakini akan mempertontonkan seni budaya yang selama ini mengakar. Hanya saja Greenpeace berpendapat bahwa perlu ada rambu – rambu yang dipatuhi dan kembali diingatkan terutama terkait kebiasaan orang di tanah Papua yang memberikan hadiah atau penghargaan tanpa melihat pesan lain dibalik penghargaan yang diberikan.
Ada kesulungan ada tatanan adat yang patut dihormati. Juru Kampanye Hutan Papua, Greenpeace Indonesia, Nicodemus Wamafma menyampaikan bahwa momentum PON XX Papua sudah di depan mata sehingga penting untuk mengingatkan Panitia Besar PON XX Papua ikut serta mendukung Surat Edaran Gubernur No.660.1/6501/SET dengan komitmen untuk tidak memberikan, menganugerahi mahkota berhiaskan burung Cenderawasih atau bulu Cenderawasih.
Pemberian makhota tetap dapat diberikan dengan makhota yang dihiasi oleh bulu burung tiruan atau imitasi maupun noken asli yang dirajut oleh mama-mama Papua yang ada tersebar dari Raja Ampat, Sorong-Merauke. “Jika ini dijalankan paling tidak ada ini akan menjawab 2 hal mendasar, pertama menyelamat burung Cenderawasih, kedua ikut mengkampanyekan dan mempromosikan noken asli Papua sebagai warisan budaya Papua serta menunjang pertumbuhan ekonomi lokal mama- mama pedagang noken asli Papua sekaligus memotifasi mama – mama dan semua pembuat noken asli untuk meningkatkan produktifitasnya,” beber Nicodemus dalam rilisnya, Senin (30/8).
Greenpeace melihat dalam 30 tahun terakhir keindahannya burung Cenderawasih sering diburu dan diawetkan kemudian dijual untuk dijadikan hiasan di rumah ataupun di kantor, ada juga yang dijadikan makhota oleh kepala-kepala suku maupun ondoafi di Papua dan bahkan diberikan sebagai makhota saat penyambutan tamu-tamu sehingga dampaknya adalah semakin menyusutnya populasi burung Cenderawasih dan semakin sulit ditemukan. Nicodemus menyebut kehadiran investasi berbasis lahan seperti perkebunan sawit dan HPH/HTI (10,5 juta ha) yang membuka hutan secara massive dan luas (deforestasi) juga telah menjadi penyebab rusaknya habitat hidup kelompok/keluarga burung Cenderawasih.
“Berkurangnya populasi burung Cenderawasih yang semakin mengkhawatirkan bahkan bisa menuju kepada kepunahan namun tetap saja perburuan dan penyebab lain yaitu pembukaan lahan-lahan hutan alam tanah Papua secara massive hingga saat ini menjadi ancaman serius bagi kehidupan burung Cenderawasih, apalagi sikap dan kebiasaan di Papua yang masih menghargai tamu penting dari luar Papua dengan memasangkan Makhota Cenderawasih. Harusnya ini tidak lagi dilakukan,” wantinya.
Ia menegaskan bahwa jika komitmen untuk tidak menggunakan mahkota Cenderawasih dalam event PON dilakukan oleh panitia maka dengan sadar PB PON telah ikut menjaga dan melindungi burung Cenderawasih dari kepunahan serta ikut berkampanye menjaga hutan Papua karena hutan aAdalah sumber kehidupan bagi burung Cenderawasih dan bahan baku penting bagi mama-mama perajut noken. “Itu catatan kami,” imbuhnya. (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *