Disesalkan, Pengambilan Paksa Jenazah Covid -19 Masih Terjadi

Direktur RSUD Wamena, dr. Felly Sahureka, Mkes, Sp,PK, didampingi dr. Anto , Sp,PD dan Dr Manu saat memberikan keterangan di ruang Direktur RSUD Wamena, Senin (30/8). (Denny/Cepos )

WAMENA-Aksi pengambilan paksa jenazah pasien yang positif terpapar Covid-19 masih terjadi di RSUD Wamena. Bahkan, kasus serupa ini sudah terjadi 3 kali. Hal ini mengundang keprihatinan dan penyesalan dari pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wamena. Dimana di tengah upaya untuk mencegah penyebaran Covid-19, namun masih banyak warga yang belum sadar protocol kesehatan.
Direktur RSUD Wamena, Dr. Felly Sahureka, Mkes, Sp,PK menjelaskan bahwa hasil PCR yang dikeluarkan RSUD Wamena terhadap Pasien Covid -19 itu tidak bisa bohong atau dimanipulasi. Karena itu, aksi-aksi pemaksaan untuk mengambil jenazah covid -19 ini sangat disesalkan, seperti yang terjadi kemarin ada lagi yang mengambil jenazah pasie Covid -19 dengan paksa.
“Yang saya dengar, keluarga inti bisa menerima pemakaman dilakukan secara protokol kesehatan, karena mereka sudah mendapat penjelasan sebelum pasien meninggal dan dinyatakan positif lewat pemeriksaan PCR, tapi informasi yang berhembus di masyarakat kami yang mengcovidkan, ini sangat disayangkan,”untukapnya Senin (30/8) kemarin.
Ia mengaku sangat kecewa dengan aksi —aksi ini, dan menegaskan tidak pernah tim medis mengambil keuntungan dari Pandemi Covid-19. Yang dikerjakan petugas kesehatan berdasarkan fakta dan bukti dari Pemeriksaan PCR, tidak pernah dalam pemeriksaan itu mengcovidkan siapapun pasien itu.
Ia menyatakan apa yang dilakukan untuk memutus mata rantai Covid -19 seakan sia-sia dilakukan dengan tindakan seperti ini, dari pengambilan jenazah pasien Covid itu, kini banyak yang melakukan kontak langsung, dan pihaknya tetap akan melakukan screening, namun mereka harus karantina selama 14 hari dulu.
“Dalam karantina itu kita akan periksa pertama pada hari ke 7, dan untuk pemeriksaan kedua hari ke 14, kecuali mungkin istri dan anak pasien yang sempat kontak erat karena sempat menjaga pasien bisa dilakukan pemeriksaan pada saat ini, kalau untuk yang lain mungkin bisa dilakukan antigen dulu namun dengan catatan harus karantina.”jelas dr Felly
Direktur RSUD Wamena juga menyatakan dengan adanya kejadian ini pihaknya sangat membutuhkan bantuan dari paguyuban yang ada di Jayawijay. Artinya ada ketua yang disegani oleh warganya sehingga jangan memberikan komentar yang negatif itu membuat masalah tambah runyam.
“Harusnya membuat komentar yang positif kepada warganya agar mengerti tentang covid -19 agar membantu kami, meringankan beban dipelayanan, kalau mereka paham bisa disampaikan ke warga paguyubannya, tetapi kalau ketua paguyuban juga ikut —ikutan maka percuma,”tegasnya.
Di tempat yang sama dr. Anto , Sp,PD yang menangani pasien Covid -19 di RSUD Wamena menyatakan pasien itu masuk lewat UGD dengan gejala batuk, sesak, dan demam. Kebetulan pasien ini juga ada riwayat asma dan gangguan jantung, sehingga diperiksakan antigen, namun hasilnya negatif, namun setelah dirawat saturasi oksigen dalam darah mulai turun sehingga dilakukan pemeriksaan PCR dan hasilnya keluar 01.00 WIT Positif. Dan sudah diberitahukan kepada keluarganya yang menjaga.
“Besoknya kita pindahkan ke Ruang Isolasi Covid -19 sesuai dengan SOP RSUD Wamena, setelah dalam perawatan dan diberikan obat antivirus, namun saturasi oksigen kembali turun, dan setelah diperiksa memang ada wishing di paru —parunya, namun beberapa jam kemudian pasien dinyatakan meninggal karena Covid-19 dan komplikasi jantung,”bebernya.
Sementara itu dr Manu menyebutkan tindakan pemaksaan pengambilan jenazah sebenarnya kalau dilihat sangat mengganggu pelayanan. Petugas ingin mengantar oksigen terganggu karena kerumunan masyarakat, sehingga psikis petugas terganggu, pasien juga terganggu, sehingga bagi yang sudah mengerti tolong memberikan edukasi kepada yang lain.
“Apalagi kalau sudah menggedor dinding ruang isolasi sampai pasien takut dan ada yang minta pulang, sedangkan aset yang ada hanya SDM, nanti kalau SDM ini sudah tidak mau melayani bagaimana, di RSUD Wamena hanya dokter Anto seorang diri yang melayani Covid dan banyak petugas yang sudah terpapar, sehingga kita sama —sama jaga kalau nakes sudah dalam situasi jenuh maka imbasnya akan ke pasien,”tuturnya. (jo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *