Tak Ada Efek Samping Negatif Untuk Ibu Hamil

Pemberian vaksin bagi Ibu hamil di Kantor Dinkes Provinsi Papua, Rabu (18/8) kemarin. Vaksin bagi ibu hamil maupun sedang menyusui dinilai dangat penting mengingat ibu dan janin akan mendapat antibody saat pandemi covid 19. (Gamel Cepos)

JAYAPURA – Pelaksanaan vaksin perdana bagi ibu hamil untuk Papua akhirnya, Rabu (18.8) digelar. Disini para dokter dan tenaga medis kembali memastikan bahwa tak ada efek samping negatif bagi ibu hamil maupun janinnya. Justru bagi ibu hamil yang belum melakukan vaksin bila terpapar covid maka kondisinya bisa jauh lebih berat. Bahkan dari penanganan selama ini dikatakan jarang ada ibu hamil yang selamat dari covid.
Kebanyakan ia dan bayinya akhirnya meninggal karena covid 19. “Efek sampingnya adalah janin justru mendapat anti body. Jadi ibu hamil dengan usia kandungan usia 12-13 minggu sudah boleh divaksin dan tidak ada efek sampingnya,” kata Dokter Aaron dari Satgas Covid 19 Provinsi Papua saat ditemui di lokasi vaksin di Kantor Dinkes Provinsi Papua di Kotaraja, Rabu (18/8). Ia menyarankan bagi ibu hamil sebaiknya segera melakukan vaksin guna memastikan antibody ibu dan janin terbentuk untuk melawan covid.
Sebab jika tidak maka akan sangat rentan. Untuk waktu kandungan yang bisa divaksin sendiri dijelaskan bisa hingga pada usia kandungan 34 minggu untuk keduanya. Namun jika sudah berusia 36 minggu maka hanya ibu bayinya saja yang mendapat antibody. “Jadi sebaiknya sebelum janin berusia 36 minggu agar keduanya mendapat andibody,” imbuh Aaron.
Disinggung soal pemahaman masyarakat awam dan ketakutan soal apakah akan mempengaruhi pertumbuhan janin, Aaron kembali menegaskan bahwa semua sudah melewati penelitian dan tidak akan mempengaruhi kondisi janin.
“Terlalu banyak hoax di Papua dan kami tidak mau terlalu ambil pusing sebab dokter sudah bicara bahwa ini tidak memberi efek samping lain. Kalau masyarakat mau percaya silahkan, tidak juga silahkan, urus kekebalan tubuh sendiri dan jangan mengeluh ketika terpapar karena dipastikan kondisi saat itu akan jauh lebih berat,” wantinya. Hal senada disampaikan bidan Selci bahwa saat ini vaksin yang diberikan masih jenis sinovac yang sama seperti masyarakat lainnya.
Hanya dihari pertama disebutkan ada 22 orang yang melakukan vaksin dimana 12 diantaranya adalah ibu hamil. Namun ada juga ibu menyusui yang melakukan vaksin. “Kalau mengantuk, demam, lapar dan pegal kami pikir itu kondisi yang normal. Saya sendiri sempat meriang tapi itu normal dan gejala yang muncul tidak semua sama. Hingga vaksin ketiga saya tidak lagi kaget dengan gejala – gejala tersebut,” bebernya. Ia juga meyakinkan pasien yang akan divaksin bahwa keinginan harus tumbuh dari diri sendiri berdasar kesadaran dan pemahaman. “Kami selalu mempertanyakan kembali apakah mereka (pasien) keberatan atau ada paksaan atau sudah paham soal vaksin. Kalau masih ragu kami minta mereka meyakinkan diri dulu,” jelasnya.
“Kami sendiri sudah melayani banyak sekali orang bahkan ada yang berusia 80 tahun termasuk yang dipapah menggunakan tongkat dan semua baik – baik saja. Tapi kalau terlalu sering menonton sinetron dan informasi yang tidak akurat tak pasti enggan untuk vaksin,” singgungnya.
Pelaksanaan vaksin bagi ibu hamil ini masih akan berlanjut hingga Oktober 2021.(ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *