Wali Kota Sayangkan Adanya Pemalakan Mobil Ambulance

Wakil Ketua DPRD Kota Jayapura, Jhony Betaubun bersama Ketua Pansus Covid DPRD Kota Jayapura, Yuli Rahman dan Wakil Wali Kota Jayapura, Ir H Rustan Saru MM ketika memantau jalannya operasi yustisi di Abepura, Jumat (13/8) kemarin. DPRD dan Pemkot menyayangkan terjadinya pemalakan mobil ambulance pengantar jenasah covid. ((Gamel Cepos))

JAYAPURA – Kejadian mobil ambulance yang membawa jenasah covid dipalang orang mabuk mendapat sorotan dari Pansus Covid 19 Kota Jayapura. Pansus menganggap meski kejadian tersebut adalah insidentil namun sangat tidak terpuji mengingat para relawan ini bekerja tanpa mengenal waktu dan untuk kemanusiaan. Karenanya jika petugas kemanusiaan diganggu maka apalagi yang harus dilakukan untuk menyelamatkan nyawa atau menguburkan jenasah secara laik. “Perbuatan tak terpuji yang dilakukan para pelaku, kami berharap tugas atau kerja – kerja relawan ini jangan diganggu,” kata Yuli Rahman saat ditemui disela- sela operasi yustisi, Jumat (13/8).
Senada disampaikan Wakil Ketua I DPRD Kota Jayapura, Jhony Betaubun yang menyampaikan bahwa mobil ambulance bekerja berdasar dua undang – undang, undang – undang kesehatan dan undang – undang lalu lintas. Operasional mobil ini juga dilindungi makanya tidak heran jika berada di jalan umum, mobil ambulance selalu didahulukan. “Kenapa setiap mobil ambulance lewat itu kendaraan lain harus mengalah dan didahulukan, ini tak lepas dari operasional mereka baik mengantar orang sakit maupun mengantar jenasah itu dilindungi undang – undang kesehatan maupun lalu lintas. Kami prihatin dan seharusnya tak boleh terulang lagi,” kata Jhony.
Wali Kota Jayapura, Dr Benhur Tomi Mano MM juga angkat bicara. Ia meminta jangan ada pihak yang mengganggu pekerjaa kemanusiaan. Jika masih mengganggu maka dirinya meminta aparat untuk menyelidiki dan menindak. Apalagi yang ketahuan sebelumnya pelaku menggunakan mobil fortuner. Seharusnya memiliki intelektualitas yang baik dan bisa membedakan mana merugikan orang lain. “Saya minta aparat harus menindak, jangan dibiarkan preman – preman seperti ini. Yang perlu diingat adalah saat ini Jayapura berada pada level IV dan semua kegiatan harus dibatasi, jangan buat gerakan sendiri yang justru merugikan diri sendiri,” tegasnya. (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *