Aniaya Pacar, Oknum Pengacara Lolos dari Jerat Hukum

Oknum pengacara berinisial YRG (28) yang diamankan polisi karena menganiaya pacarnya. Pelaku lepas dari jerat hukum, menyusul korban yang juga pacarnya memaafkan dan mencabut laporan di polisi. (Sulo/Cepos )

Korban Memaafkan dan Mencabut Laporan Polisinya
MERAUKE-Oknum pengacara di Merauke berinisial YRG (28) yang melakukan penganiayaan terhadap pacarnya beberapa waktu lalu dan dilaporkan ke Polisi, akhirnya diselesaikan secara kekeluargaan. Korban memaafkan tersangka dan mencabut laporan polisi yang dibuatnya. ini artinya, oknum pengacara ini bisa bernafas lega bebas dari jeratan hukum yang mengancamnya.
“Untuk laporan tersebut, laporan polisinya sudah dicabut dan telah diselesaikan secara kekeluargaan karena korbannya mau memaafkan tersangka,” kata Kapolres Merauke AKBP Ir. Untung Sangaji, M.Hum melalui Kasat Reskrim AKP Agus F. Pombos, SIK ketika dihubungi media ini, Jumat (13/8).
Secara terpisah, Ketua Peradi Cabang Merauke Guntur M. Ohoiwutun, SH, MH, mengaku jika kasus tersebut telah diselesaikan secara kekeluargaan. “Kami juga sebagai advokad dan dia (tersangka,red) sebagai anggota kami, telah memberikan pendampingan hokum dan mengajukan permohonan penahanan selanjutnya melakukan dialog dengan pengacara korban. Ternyata itu bisa berjalan dengan baik. Korban sudah mencabut dan kesepakatan antara korban dan pelaku sudah dibuat. Kami tidak lagi mendampingi. Memang ada deal-deal antara korban dengan pelaku. Karena ini menyelamatkan anggota dan sebagai pengacara muda,” kata Guntur Ohoiwutun.
Guntur menjelaskan bahwa sebagai orang hukum, sebenarnya tidak boleh melakukan pelanggaran hukum. Baik dalam perbuatan maupun dalam kata-kata. ‘’Pengacara itu harus taat pada etika profesi. Ketaatan kepada profesi harus dilakukan oleh setiap advokat. Nah, posisi seperti ini tergantung korban melaporkan atau tidak. Karena tentu dimuka digelar dewan kehormatan kalau dia memang melanggar kode etika.”bebernya.
“Tapi karena mereka sudah berdamai, tentu kami mau bagaimana lagi. Tapi sebagai Ketua DPC Peradi Merauke, saya akan panggil anggota yang bersangkutan untuk bersama dengan senior-senior yang ada disini untuk memberikan masukan agar perilaku tindak tanduk sebagai advokat sesuai dengan tata cara dan sesuai dengan tata hukum dan seorang hukum yang bermartabat,” katanya.
Menurutnya, kendati telah melakukan tindak pidana tersebut namun karena tidak sampai ada putusan yang menyatakan yang bersangkutan bersalah atau tidak sehingga keanggotannya di Peradi tetap. “Kecuali ada putusan pengadilan yang menyatakan dia bersalah barulah kita berikan sanksi,” jelasnya.
Namun demikian, Guntur Ohoiwutun memberikan catatan bahwa pengacara-pengacara muda ini banyak keluar dari rel, terutama etika. “Memang mungkin menjadi catatan juga agar pengacara-pengacara muda yang baru satu dua tahun jadi pengacara tolong tunduk kepada profesi. Sehingga profesi luhur itu betul-betul bisa dijalankan dengan baik dan tidak memberikan citra buruk kepada penegakan hukum terutama advokat. Karena kita yang pengacara senior tidak pernah berbuat seperti ini,” tandasnya.
Guntur menyebut, bahwa dengan kejadian ini, sudah ada 3 anggota Peradi di Merauke yang memberikan citra buruk terhadap advokat. Dua advokat melakukan penganiayaan dan satu advokat meninggalkan kliennya sebelum perkara yang ditangani selesai. Padahal, kliennya sudah memberikan fee sampai ratusan juta rupiah untuk menangani perkarannya tersebut.
“Selain itu juga banyak juga orang-orang yang mengaku sebagai advokat dan ini merusak citra di lapangan. Dan ini kita akan tertibkan dan akan membuat laporan kalau masih ada orang-orang yag mengaku sebagai advokat atas pelanggaran UU Advokat,’’ tandasnya. (ulo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *